Semarang tidak hanya menjadi lokasi konferensi, tetapi juga ruang praktik bagi penerapan acara ramah lingkungan melalui The 3rd NUSAMICE 2026. Di gelaran ini, penyelenggara menempatkan keberlanjutan sebagai cara kerja utama, mulai dari kampanye digital hingga pengelolaan sampah selama acara berlangsung.
Konferensi yang digelar Program Studi D-IV MICE PSDKU Demak Politeknik Negeri Jakarta di Grasia Convention Hall itu menunjukkan bahwa isu lingkungan kini masuk ke inti pembahasan industri MICE. Dukungan datang dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Wonderful Indonesia, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, dan Bank Sampah Waras.
Tema yang diusung juga menegaskan arah tersebut, yaitu Responsible Consumption and Production in the MICE Industry for Achieving Sustainable Development Goals 2030. Fokusnya ada pada bagaimana industri MICE dapat tumbuh tanpa mengabaikan pengurangan limbah, efisiensi sumber daya, dan praktik yang lebih ramah lingkungan.
Prinsip itu tidak berhenti di ruang diskusi. Seluruh rangkaian acara disebut tidak menggunakan plastik dan menerapkan paperless, sehingga pesan keberlanjutan hadir langsung dalam pelaksanaan kegiatan.
Panitia juga menggerakkan peserta lewat kampanye digital #NusaTanpaSampah bersama maskot Rere. Ada pula program From Home to Green Zone yang mendorong delegasi membawa serta memilah sampah agar bisa dikelola bersama Bank Sampah Waras.
Kolaborasi lintas sektor di panggung Semarang
Kehadiran unsur pemerintah, akademisi, pelaku industri, mahasiswa, dan masyarakat memperlihatkan bahwa pembahasan keberlanjutan di MICE sudah bergerak lintas sektor. Pola ini memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang serius membangun ekosistem MICE berkelanjutan.
Pembukaan konferensi menghadirkan Tari Semarang Hebat yang dibawakan Nur Lintang Devyna Putri, mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta PSDKU Demak. Unsur budaya lokal itu memberi identitas yang kuat sekaligus membuka forum dengan nuansa khas kota.
Keynote speech disampaikan Glory Narasarani, S.T., M.T., M.Sc., selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan industri MICE yang ramah lingkungan dan berkelanjutan demi mendukung pencapaian SDGs 2030.
Fokus pembahasan pada target SDGs
Sesi pleno pertama membahas tantangan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan dalam industri MICE di Semarang. Paparan disampaikan Almas Nabili Imanina, S.Tr.Par., MM.Par., selaku Kepala Program Studi Pariwisata Universitas Semarang, dengan Mella Narolita, S.Hum., M.A., akademisi Politeknik Negeri Jakarta, sebagai moderator.
Pembahasan itu menyoroti target 12.2 SDGs, terutama pengurangan limbah, pemakaian ulang material, dan efisiensi penggunaan sumber daya dalam penyelenggaraan event. Arah ini menempatkan pengelolaan sumber daya sebagai bagian penting dari keberhasilan acara.
Pada sesi pleno kedua, Bayu Vinda Fourensia, Creative Director PT Diwangsa Nyala Kreatif, memaparkan strategi implementasi 3R dalam manajemen event MICE. Materi tersebut dikaitkan dengan target 12.5 SDGs yang menitikberatkan pada pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali material.
Reduce, Reuse, dan Recycle diposisikan sebagai fondasi untuk menekan dampak lingkungan di industri MICE. Pendekatan itu menegaskan bahwa keberlanjutan harus masuk ke cara kerja penyelenggaraan acara, bukan hanya menjadi materi diskusi.
Ruang untuk ekonomi kreatif hijau
Di luar sesi konferensi, panitia menghadirkan Eco Exhibition yang melibatkan UMKM berkonsep berkelanjutan. Tiga peserta yang tampil adalah Koelon Kalie, Ego Eko Shop, dan Craftonesia.
Koelon Kalie dan Craftonesia menampilkan kerajinan tangan dari bahan daur ulang yang memiliki nilai guna dan estetika. Sementara itu, Ego Eko Shop memperkenalkan produk berbahan alam asli yang ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup berkelanjutan.
Pameran ini membuat konferensi tidak berhenti pada pembahasan teori dan kebijakan. Forum tersebut juga memberi ruang bagi pelaku usaha ramah lingkungan untuk tampil di hadapan peserta yang lebih luas.
Melalui The 3rd NUSAMICE 2026, Semarang kembali diposisikan sebagai daerah yang siap mengembangkan ekosistem MICE yang berdaya saing. Kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, komunitas lingkungan, dan pelaku usaha menjadi penanda kuat dari arah itu.
Source: www.medcom.id




