Purbaya Bantah Isu Stress Test Perbankan, Rupiah Makin Dekat Ke Rp 18.000

Tekanan terhadap rupiah kembali menjadi sorotan ketika mata uang Garuda bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Di tengah kondisi itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pasar terlalu cepat bereaksi terhadap sentimen dan rumor yang beredar.

Purbaya membantah kabar bahwa dirinya meminta perbankan melakukan stress test jika rupiah tembus Rp 18.000 per dolar AS. Ia menegaskan informasi tersebut bukan arahan resmi dan justru ikut memperburuk persepsi terhadap rupiah di pasar.

Menurut Purbaya, pelemahan rupiah berlangsung cukup cepat dalam satu hingga dua hari terakhir. Ia melihat pergerakan itu tidak lepas dari isu-isu yang berkembang dan memengaruhi ekspektasi pelaku keuangan.

Salah satu isu yang disorot ialah kabar soal stress test perbankan. Purbaya menyebut rumor tersebut sebagai contoh sentimen negatif yang dinilai memperburuk tekanan terhadap rupiah, padahal dirinya tidak pernah menyampaikan pernyataan seperti itu.

“Padahal saya enggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” ujarnya. Ia menilai spekulasi semacam itu membuat pasar membaca pelemahan rupiah dengan lebih pesimistis.

Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah tercatat melemah 127,5 poin atau 0,71% ke posisi Rp 17.966 per dolar AS. Posisi itu membuat rupiah berada sangat dekat dengan batas psikologis Rp 18.000 yang kini menjadi perhatian pelaku pasar.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah pelemahan sejumlah mata uang Asia lain terhadap dolar AS. Won Korea Selatan turun 1,00%, ringgit Malaysia melemah 0,79%, rupee India terkoreksi 0,56%, baht Thailand turun 0,43%, dan yuan China melemah 0,16%.

Di sisi lain, yen Jepang dan dolar Hong Kong masih mencatatkan penguatan tipis. Pergerakan regional ini menunjukkan tekanan pada mata uang Asia berlangsung lebih luas, meski besarnya pelemahan berbeda di tiap negara.

Purbaya menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat. Ia menilai pada akhirnya nilai rupiah akan ditentukan oleh daya tahan dan kualitas dasar ekonomi nasional.

“Namun, kalau kita lihat kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ,” kata dia.

Ia juga menegaskan stabilisasi nilai tukar merupakan yurisdiksi utama Bank Indonesia sebagai bank sentral. Karena itu, pemerintah memberi ruang kepada BI untuk menjalankan perannya sebelum langkah koordinasi lanjutan dibahas.

Meski demikian, Purbaya membuka peluang koordinasi ditingkatkan bila diperlukan untuk membantu stabilitas pasar keuangan dan rupiah. Ia menyebut pemerintah siap bergerak cepat jika bank sentral meminta rapat khusus atau membutuhkan respons bersama.

“Tapi kalau ada, kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan, sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan, tetapi kan sekarang itu masih dalam yurisdiksi Bank Sentral kita. Kecuali bank sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” ujarnya.

Di tengah sorotan terhadap kurs, Purbaya juga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu kondisi fiskal pemerintah yang memburuk. Ia menyebut kinerja APBN justru membaik pada Mei dibanding April.

“Enggak ada. Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depannya? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik dibanding bulan April,” pungkasnya.

Pernyataan itu menegaskan pemerintah melihat tekanan rupiah sebagai gabungan sentimen pasar dan pergerakan regional, sementara stabilitas tetap bertumpu pada penguatan fondasi ekonomi, peran Bank Indonesia, serta koordinasi antarlembaga bila dibutuhkan.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button