Prabowo Bawa Pulang Kerja Sama Rp61 Triliun, Energi dan Radar Ikut Terdorong

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis tidak berhenti pada agenda diplomatik. Lawatan itu menghasilkan paket kerja sama bernilai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun yang langsung menyentuh sektor energi, investasi, dan pertahanan.

Nilai tersebut memberi bobot besar pada hasil pertemuan Prabowo dengan pelaku usaha Prancis. Kehadiran Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam Forum CEO Indonesia–Prancis ikut menegaskan bahwa jalur bisnis menjadi salah satu ruang paling penting dalam penguatan hubungan kedua negara.

Forum bisnis jadi pintu utama

Forum CEO Indonesia–Prancis menjadi panggung peluncuran France-Indonesia High Level Business Council atau FI-HLBC. Pada forum ini, Presiden Prabowo melihat partisipasi perusahaan-perusahaan Prancis sebagai sinyal kuat bagi perekonomian Indonesia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai FI-HLBC merupakan langkah strategis untuk mempererat hubungan ekonomi Indonesia dan Prancis. Ia menyebut forum itu mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 triliun.

Menurut Rosan, pertemuan tersebut bukan sekadar ruang dialog. Forum itu juga menjadi sarana untuk mendorong investasi dan perdagangan, sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia.

Empat kesepakatan yang paling menonjol

Dari rangkaian kerja sama yang diumumkan, empat kesepakatan utama menjadi sorotan. Isi kesepakatan itu mencakup diplomasi bisnis, pengembangan energi, dan penguatan industri pertahanan.

Kesepakatan pertama datang dari Kadin Indonesia dan MEDEF International. Keduanya meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council melalui penandatanganan nota kesepahaman yang akan menjadi wadah dialog tingkat tinggi untuk mengawal komitmen investasi dan perdagangan.

Kesepakatan kedua melibatkan Pertamina dan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara. Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan teknologi migas dan energi bersih, termasuk enhanced oil recovery, migas nonkonvensional, digitalisasi, kecerdasan buatan, efisiensi biaya, CCS, minimisasi flare, dan energi panas bumi.

Energi makin lebar, dari migas sampai rendah karbon

Kerja sama Pertamina dengan TotalEnergies menjadi kesepakatan lain yang memperluas arah kolaborasi. Ruang lingkupnya mencakup hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, bisnis rendah karbon, studi bersama, hingga pengembangan kilang hijau.

Dua kerja sama itu menunjukkan bahwa hubungan bisnis Indonesia dan Prancis tidak hanya bergerak di sekitar produksi energi konvensional. Arah kolaborasinya juga mulai merambah teknologi baru, transisi energi, dan pengurangan emisi karbon.

Pada sisi lain, kerja sama Pertamina dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara menekankan penerapan teknologi skala besar di aset Pertamina. Fokus itu membuat agenda energi tidak hanya soal pasokan, tetapi juga soal peningkatan efisiensi dan modernisasi operasi.

Radar, sistem kendali, dan industri pertahanan

Dimensi lain dari lawatan Prabowo tampak pada kesepakatan antara Danantara melalui PT Len Industri dan Thales. Kedua pihak memvalidasi surat pernyataan minat yang mencakup rencana pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia”, tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, dan pelatihan radar.

Kerja sama tersebut memperkuat proyek industri pertahanan yang sebelumnya sudah berjalan antara PT Len dan Thales. Ruang lingkup kemitraannya tidak berhenti pada radar pertahanan udara, tetapi juga mencakup antariksa dan sistem tempur TNI AL.

Arah kerja sama jangka panjang

Kadin Indonesia dan MEDEF International juga sepakat menggelar forum tahunan secara bergantian di Jakarta dan Paris. Selain itu, kedua pihak akan mengadakan rapat koordinasi tingkat wakil setiap kuartal agar kerja sama tetap berjalan konsisten.

Melalui forum itu, Indonesia dan Prancis menargetkan perdagangan bilateral naik tiga kali lipat pada 2035 dari posisi USD 2,6 miliar saat ini. Target tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara diarahkan pada kerja sama jangka panjang, bukan hanya pada proyek sesaat.

Dengan total komitmen baru senilai USD 3,5 miliar, hasil lawatan Prabowo ke Prancis menampilkan paket kerja sama yang menyentuh langsung kebutuhan ekonomi riil. Dari energi, perdagangan, hingga pertahanan, rangkaian kesepakatan itu menempatkan hubungan Indonesia dan Prancis pada jalur yang semakin dalam.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button