Harga Minyakita di Jawa Tengah masih bergerak di bawah batas pemerintah, sementara pasokannya terus digerakkan agar tidak tersendat di pasar rakyat. Kondisi ini menjadi penanda bahwa distribusi yang dijalankan Bulog Jawa Tengah masih efektif menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan stabilitas harga.
Pantauan Dinas Perdagangan dan instansi terkait menunjukkan harga Minyakita berada di kisaran Rp15.650 hingga Rp15.680 per liter. Angka itu masih berada di bawah HET Rp15.700, sehingga ruang kenaikan harga di pasar masih bisa ditekan.
Sejak awal 2026, Bulog Jawa Tengah telah menyalurkan hampir 6 juta liter Minyakita. Penyaluran dalam volume besar ini diarahkan untuk memastikan stok tetap aman, terutama di pasar-pasar yang menjadi titik pemantauan harga.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati, menjelaskan bahwa Bulog mendapat instruksi untuk menjalankan gerakan serentak agar Minyakita tersedia di pasar rakyat. Fokus distribusi diarahkan ke pasar pemantauan SP2KP supaya pergerakan harga tetap terkendali.
Di lapangan, Bulog juga menyalurkan Minyakita dari stok komersial kepada pedagang mitra di pasar rakyat. Setiap pedagang sembako di pasar menerima sekitar dua dus Minyakita agar arus barang di tingkat pengecer tetap lancar.
Jaringan pasar menjadi titik sebar
Skema distribusi tidak hanya bertumpu pada satu jenis pasar. Di Jawa Tengah, terdapat 28 pasar SP2KP yang tersebar di 25 kabupaten/kota sebagai titik pemantauan harga.
Selain itu, ada 47 pasar rakyat non-SP2KP yang juga menjadi mitra distribusi Bulog. Pola ini disusun mengikuti kebutuhan pasar dan jumlah penduduk di masing-masing wilayah.
Sri Muniati menegaskan, penyaluran dibuat agar pasokan tetap merata dan tidak menumpuk di satu daerah saja. Dengan cara itu, distribusi diharapkan mampu menjangkau lebih banyak wilayah tanpa membuat satu pasar menjadi terlalu dominan.
Tegal menerima porsi terbesar
Dari total penyaluran sejak awal 2026, Tegal tercatat sebagai wilayah dengan distribusi paling besar. Daerah itu menerima hampir 2 juta liter Minyakita, jauh melampaui wilayah lain yang ikut tersuplai.
Distribusi besar di Tegal menunjukkan bahwa kebutuhan di setiap daerah tidak sama. Karena itu, Bulog menyesuaikan arus barang dengan kondisi wilayah masing-masing agar pasokan tetap seimbang.
Upaya menjaga harga tidak hanya dilakukan lewat distribusi rutin, tetapi juga melalui operasi pasar. Pada Minggu, 10 Mei 2026, operasi pasar digelar di Pasar Karangayu, Kota Semarang, sebagai bagian dari langkah menjaga harga tetap stabil di lapangan.
Dengan pasokan yang terus bergerak dan harga yang masih bertahan di bawah HET, Bulog Jawa Tengah tetap menargetkan ketersediaan Minyakita aman di pasar rakyat. Distribusi yang merata menjadi kunci agar stok tetap terjaga dan harga tidak lepas dari kendali.
Source: www.suaramerdeka.com




