Panen Turun, Harga Cabai dan Bawang Mengerek Inflasi Jateng Ke 0,23% Pada Mei 2026

Inflasi Jawa Tengah pada Mei 2026 tidak hanya ditandai oleh kenaikan harga pangan, tetapi juga oleh tekanan dari sejumlah kelompok pengeluaran lain. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah mencatat laju inflasi bulanan sebesar 0,23 persen, berbalik dari kondisi deflasi 0,03 persen pada April 2026.

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Ali Said menyampaikan perkembangan itu dalam konferensi pers di Semarang, Selasa (2/6/2026). Pada periode yang sama, indeks harga konsumen berada di level 111,29, sementara inflasi tahunan tercatat 2,85 persen dan inflasi sepanjang tahun mencapai 1,19 persen.

Pangan masih menjadi pemicu utama

Dorongan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini memberi andil inflasi 0,07 persen, terutama karena kenaikan harga cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit.

Ali Said menjelaskan, kenaikan itu erat kaitannya dengan hasil panen yang menurun di sejumlah sentra produksi. Cuaca yang tidak menentu ikut menekan pasokan, sedangkan permintaan tetap terjaga karena bertepatan dengan Iduladha dan musim hajatan.

Dampak kenaikan harga pangan tersebut tidak muncul di satu wilayah saja. Tekanan harga terpantau merata di sembilan kabupaten dan kota yang masuk cakupan penghitungan IHK di Jawa Tengah.

Di Kabupaten Wonogiri, bawang merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,11 persen. Sementara di Kota Surakarta, cabai merah menjadi komoditas paling dominan dalam mendorong inflasi bulanan, juga dengan andil 0,11 persen.

Kelompok lain ikut menambah tekanan

Selain pangan, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turut memberi sumbangan inflasi sebesar 0,06 persen. Kenaikan pada kelompok ini dipicu oleh harga telepon seluler dan laptop yang lebih tinggi, dengan pengaruh yang disebut berkaitan dengan rantai pasok dan fluktuasi nilai tukar.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga tercatat menambah tekanan harga. Andil inflasinya sebesar 0,05 persen, terutama karena harga bahan bakar rumah tangga naik.

Di sisi lain, ada komponen yang menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil deflasi 0,05 persen, sejalan dengan melandainya harga emas perhiasan di pasar domestik.

Penurunan harga emas itu mengikuti koreksi harga emas di pasar global setelah sempat berada pada level tertinggi pada bulan-bulan sebelumnya. Kondisi tersebut membantu meredam kenaikan dari kelompok harga yang lebih dulu menguat.

Indikator sektor riil masih memberi sinyal positif

Di luar pergerakan harga, BPS Jawa Tengah juga mencatat perkembangan sejumlah indikator ekonomi lain. Nilai Tukar Petani atau NTP pada Mei 2026 berada di level 117,39, naik 2,16 persen dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan NTP menunjukkan perbaikan daya beli petani karena harga komoditas pertanian mengalami apresiasi. Di sisi perdagangan, nilai ekspor Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai US$1,38 miliar dan tumbuh 65,73 persen secara tahunan dibanding April 2025.

Untuk impor, Jawa Tengah membukukan nilai US$1,41 miliar pada April 2026, dengan kenaikan 9,34 persen secara tahunan. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara pada Mei 2026 tercatat 2.671 kunjungan dan menunjukkan tren yang positif dibanding bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Rangkaian data itu menunjukkan tekanan harga di Jawa Tengah memang kembali meningkat pada Mei 2026, tetapi beberapa indikator lain masih bergerak ke arah pemulihan. BPS menilai gambaran tersebut penting untuk membaca kondisi ekonomi daerah secara lebih utuh.

Source: semarang.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button