Meredanya Risiko Timur Tengah Dorong Rupiah Menguat Ke Rp17.144, Pasar Menanti Suku Bunga BI

Pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa sore menunjukkan bahwa pasar masih memiliki ruang untuk merespons sentimen global yang lebih tenang. Mata uang Garuda ditutup menguat 0,15% ke level Rp17.144 per dolar AS, sekaligus mencatat penguatan untuk dua hari berturut-turut.

Penguatan itu tidak berdiri sendiri, karena pasar juga menerima dorongan dari meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, indeks dolar AS bertahan di posisi 98,18 sehingga tekanan dari mata uang Amerika Serikat tidak terlalu besar bagi rupiah.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung campuran, namun rupiah tampil sebagai salah satu yang paling kuat. Dolar Taiwan naik 0,13%, won Korea Selatan menguat 0,11%, peso Filipina bertambah 0,06%, sementara yuan China dan yuan offshore masing-masing naik 0,03% dan 0,01%.

Minyak turun, tekanan ikut mereda

Selain faktor geopolitik, harga minyak dunia yang terkoreksi juga membantu menenangkan pasar. WTI turun 1,79% ke US$88,01 per barel, sedangkan Brent melemah 1,13% menjadi US$94,4 per barel pada pukul 14:50 WIB.

Pergerakan itu memberi sinyal bahwa pelaku pasar mulai menilai risiko dengan lebih hati-hati dan tidak lagi bereaksi seagresif sebelumnya. Meski begitu, harga minyak masih berada di atas asumsi dasar pemerintah sebesar US$70 per barel sehingga arah pergerakannya tetap menjadi perhatian.

Rupiah tetap menarik di mata investor

Di tengah kondisi eksternal yang lebih stabil, instrumen rupiah masih mendapat minat dari investor asing. Hingga 17 April 2026, dana investor asing yang ditempatkan di pasar surat utang rupiah tercatat sebesar US$86,6 juta, dengan yield surat utang acuan berada di level 6,57%.

Minat yang kuat juga terlihat pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Dalam lelang pada Jumat, 17 April 2026, total penawaran masuk mencapai Rp50 triliun dan Bank Indonesia menyerap Rp19 triliun dari jumlah tersebut.

Tenor 12 bulan menjadi yang paling diminati dengan penawaran Rp40,7 triliun, lalu BI menyerap Rp17 triliun. Untuk tenor 6 bulan, BI menyerap Rp1,5 triliun, sementara tenor 9 bulan diserap Rp500 miliar.

Fokus pasar bergeser ke Bank Indonesia

Setelah rupiah bergerak positif, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan diumumkan esok hari. Berdasarkan survei terhadap 22 ekonom, suku bunga diperkirakan tetap berada di level 4,75%.

Ekspektasi itu menjadi penting karena pasar ingin melihat apakah stabilitas kebijakan moneter bisa tetap terjaga di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya reda. Selama tekanan eksternal masih berubah-ubah, pasar akan terus mencermati apakah penguatan rupiah ini bisa bertahan lebih lama.

Baca Juga

Back to top button