Tekanan terhadap rupiah tidak muncul dari satu arah saja. Di tengah penguatan dolar AS, gejolak geopolitik di Timur Tengah ikut menjaga harga minyak tetap tinggi dan membuat arus modal dari negara berkembang bergeser.
Bank Indonesia membaca kondisi itu sebagai sinyal untuk memperkuat penjagaan stabilitas pasar. Di saat yang sama, kebutuhan valas dari dalam negeri juga ikut menambah tekanan, sehingga pelemahan rupiah menjadi lebih terasa.
Di pasar domestik, permintaan dolar biasanya naik pada momen-momen tertentu yang bersifat musiman. BI menyebut siklus korporasi, mulai dari repatriasi dividen ke luar negeri hingga pembayaran utang luar negeri, ikut mendorong kebutuhan valuta asing.
Karena tekanan datang dari eksternal dan internal sekaligus, bank sentral memilih langkah yang tidak bergantung pada satu instrumen. Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan intensitas intervensi akan ditingkatkan agar stabilitas rupiah tetap terjaga.
Intervensi dilakukan bertahap di beberapa pasar
BI menempuh pendekatan berlapis untuk meredam gejolak. Langkah awal dilakukan lewat transaksi Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri untuk menahan tekanan dari sisi eksternal.
Sesudah itu, BI melanjutkannya di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward. Bank sentral juga masuk membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk membantu menjaga stabilitas imbal hasil.
Rangkaian langkah tersebut dipakai agar tekanan pada rupiah tidak berkembang lebih dalam. BI juga menjaga struktur suku bunga pada instrumen moneter yang dinilai pro-market supaya aset domestik tetap menarik bagi investor global.
Pelemahan dinilai masih dalam batas wajar
Meski rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, BI menilai koreksi yang terjadi masih berada dalam batas kewajaran. Destry menyebut tekanan serupa juga dialami sejumlah mata uang Asia lain yang ikut melemah terhadap dolar AS.
Secara year-to-date, rupiah tercatat melemah 7,44 persen. Dalam pandangan BI, pelemahan itu perlu dikelola, tetapi belum mencerminkan kondisi yang lepas kendali.
Cadangan devisa menjadi salah satu penopang penting dalam menghadapi situasi tersebut. Pada akhir April 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat USD 146,2 miliar, yang memberi ruang bagi otoritas moneter untuk merespons gejolak pasar.
Dorongan mengurangi ketergantungan pada dolar
Selain intervensi pasar, BI dan pemerintah juga memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction atau LCT. Skema ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan bilateral.
Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. BI mencatat nilai transaksi perdagangan melalui LCT pada April 2026 mencapai sekitar USD 22,7 miliar.
Angka tersebut hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun lalu yang berada di level USD 25,7 miliar. Perkembangan ini menunjukkan diversifikasi transaksi valuta asing mulai memberi hasil, dan BI tetap mendorongnya sebagai salah satu penyangga di tengah tekanan rupiah.
Source: www.suara.com




