Limbah Sawit Naik Kelas Jadi Gas Siap Pakai, BRIN Dan PalmCo Dorong Pengganti LPG

Di tengah kebutuhan energi alternatif yang terus naik, limbah sawit mulai dilihat sebagai bahan baku yang jauh lebih bernilai daripada sekadar sisa produksi. BRIN dan PTPN IV PalmCo kini mendorong pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas atau Bio-CBG sebagai salah satu kandidat pengganti LPG dan bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.

Pendekatan ini menempatkan sawit dalam peran yang lebih luas dari sekadar komoditas perkebunan. Melalui pengolahan limbah, sektor ini diarahkan menjadi sumber pasokan energi hijau yang bisa memberi nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Limbah yang diolah jadi gas

PalmCo dan BRIN mematangkan kajian Bio-CBG dengan memakai palm oil mill effluent atau POME serta biomassa tandan kosong. Dari bahan baku itu dihasilkan biomethana berkadar tinggi yang kemudian dimurnikan agar spesifikasinya mendekati gas bumi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyebut Bio-CBG sebagai “kembaran hijau” dari CNG. Ia menilai gas tersebut memiliki fungsi serupa dan berpotensi dipakai sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lain.

Arah pengurangan ketergantungan impor

Pengembangan Bio-CBG tidak berhenti pada aspek teknologi pengolahan limbah. Arah besarnya juga terkait upaya menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, terutama LPG.

Energi hasil olahan limbah sawit itu diproyeksikan bisa masuk ke bauran energi baru terbarukan nasional. Dalam kerangka itu, limbah sawit tidak lagi diposisikan sebagai residu produksi, melainkan sebagai sumber bahan baku energi bernilai tambah tinggi.

PalmCo menempatkan energi hijau berbasis sawit sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Langkah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana ekosistem perkebunan bisa mendukung transisi energi tanpa harus bergantung penuh pada sumber energi dari luar.

Fasilitas mulai dibangun bertahap

Salah satu proyek Bio-CBG yang sudah berjalan berada di Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatera Utara. Dari titik ini, PalmCo menyusun peta jalan agar pengembangan energi hijau berbasis sawit dapat dilakukan bertahap di lokasi lain.

Perusahaan menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029 bersama mitra kerja. Untuk tahun ini, PalmCo berencana melakukan groundbreaking delapan proyek baru sebagai bagian dari ekspansi tersebut.

Jatmiko juga menegaskan bahwa pengembangan itu tidak akan berhenti pada produksi listrik dari limbah sawit. Ia berharap fasilitas pengolahan limbah sawit ke depan juga bisa menghasilkan gas siap pakai yang bermanfaat bagi sektor industri dan transportasi.

Nilai strategis dari ekosistem sawit

Jika pengolahan limbah dapat menghasilkan gas berkualitas mendekati gas bumi, maka POME dan tandan kosong memiliki nilai strategis yang lebih luas. Kedua bahan itu bukan lagi sekadar hasil samping, tetapi bisa menjadi bagian dari rantai pasok energi bersih.

Bagi PalmCo, arah ini menjadi cara untuk memaksimalkan sumber daya yang sudah tersedia di dalam perkebunan. Dengan begitu, pengembangan energi tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga efisiensi, nilai tambah, dan kontribusi pada transisi energi nasional.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button