Di tengah memanasnya relasi antara Donald Trump dan media arus utama, lebih dari 250 jurnalis di Washington mendorong adanya penolakan simbolis dari komunitas pers dalam Makan Malam Korresponden Gedung Putih yang digelar akhir pekan ini. Seruan itu muncul lewat surat terbuka yang meminta Asosiasi Wartawan Gedung Putih atau WHCA mengambil sikap lebih tegas dalam membela kebebasan pers.
Dorongan tersebut tidak mengarah pada aksi yang gaduh. Para penandatangan justru mengusulkan bentuk protes yang tetap sopan dan tidak mencolok, seperti memakai pin atau aksesori bertema Amandemen Pertama, agar dukungan terhadap independensi media tetap terlihat tanpa mengubah nuansa acara yang dikenal formal namun santai.
Desakan agar WHCA lebih vokal
Isi surat terbuka itu menempatkan WHCA dalam sorotan. Para jurnalis menilai asosiasi tersebut tidak cukup bila hanya berperan mengelola jalannya acara, karena situasi kebebasan pers dianggap memerlukan suara yang lebih lantang.
Mereka meminta WHCA tidak sekadar menjadi penyelenggara, melainkan juga tampil sebagai pihak yang lebih aktif saat kebebasan pers dinilai terancam. Dalam pandangan para penandatangan, tekanan terhadap media kini semakin serius di tengah iklim politik yang terpolarisasi.
Sejumlah organisasi jurnalisme dan kebebasan pers ikut menandatangani surat itu. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran atas ruang gerak media tidak hanya datang dari jurnalis perorangan, tetapi juga dari kelompok yang selama ini memantau isu pers.
Trump dan sorotan pada makan malam pers
Kehadiran Donald Trump kembali membuat Makan Malam Korresponden Gedung Putih menjadi pusat perhatian. Acara tahunan itu disebut akan dihadiri Trump untuk pertama kalinya selama masa jabatannya saat ini, sehingga simbol pertemuan antara pers dan pemerintah kembali menguat.
Hubungan Trump dengan media arus utama sudah lama tegang. Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan itu disebut kembali meningkat, sementara WHCA juga beberapa kali bersinggungan dengan kebijakan komunikasi dari pemerintahannya.
Trump sendiri berulang kali melontarkan kritik keras terhadap media. Ia kerap menuduh sejumlah media menyebarkan informasi yang dianggap tidak akurat, dan sikap tersebut ikut membentuk suasana tegang di sekitar acara pers Gedung Putih.
Akses media ikut dipersoalkan
Dalam surat terbuka tersebut, perubahan mekanisme akses media juga menjadi perhatian. Rotasi liputan yang sebelumnya banyak dikelola asosiasi jurnalis kini disebut lebih banyak diatur langsung oleh pihak Gedung Putih.
Bagi para penandatangan, persoalan itu tidak berhenti pada urusan teknis peliputan. Mereka memandangnya sebagai bagian dari pola yang lebih luas, yakni meningkatnya tekanan terhadap kebebasan jurnalis saat menjalankan tugas.
Surat itu juga menyinggung langkah dan kebijakan yang dikaitkan dengan Trump, termasuk gugatan terhadap sejumlah media. Poin tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi yang dinilai semakin menekan dunia pers di tengah ketegangan politik yang terus membesar.
Acara formal yang kian sarat muatan politik
Makan malam korps pers Gedung Putih selama ini dikenal sebagai forum seremonial yang mempertemukan media dan pemerintah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, acara itu makin kental nuansa politik karena hubungan Trump dengan media sering diwarnai kritik dan konflik terbuka.
Tahun ini, penyelenggara juga memilih hiburan non-komedi, berbeda dari tradisi sebelumnya yang biasanya menampilkan komedian sebagai pengisi utama. Perubahan itu menambah perhatian terhadap acara yang kini dipandang bukan hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai cerminan ketegangan antara kekuasaan dan pers.
Dengan kehadiran Trump yang diperkirakan menyedot sorotan lebih besar, seruan protes dari lebih dari 250 jurnalis menempatkan kebebasan pers sebagai isu utama dalam Makan Malam Korresponden Gedung Putih. Di tengah perubahan akses media, kritik terhadap kebijakan pemerintah, dan hubungan yang terus memanas, acara itu kembali menjadi panggung yang memperlihatkan batas antara kehendak politik dan independensi jurnalisme.
Source: www.medcom.id




