Fasilitas Lengkap Di Huntara Tunyang, Tito Nilai Bener Meriah Pantas Jadi Rujukan Nasional

Hunian sementara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menarik perhatian karena dinilai cepat selesai sekaligus tertata dengan baik. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebut kawasan itu layak menjadi contoh bagi daerah lain yang sedang menyiapkan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak bencana.

Tito menilai nilai penting dari huntara Tunyang bukan hanya terletak pada kecepatan pembangunannya, tetapi juga pada kualitas penataannya. Menurut dia, hunian sementara tidak cukup hanya berdiri, melainkan harus menghadirkan ruang hidup yang layak bagi warga selama menunggu rumah permanen selesai dibangun.

Kawasan yang berubah cepat

Perubahan di lokasi tersebut terlihat jelas dibandingkan kunjungan sebelumnya. Saat Tito datang bersama bupati dan wakil gubernur, area itu masih berupa lahan awal dan belum menunjukkan bentuk permukiman yang utuh.

Kini, kawasan yang sama sudah berdiri hunian yang lebih rapi dan teratur. Perubahan itu membuat Tito menilai pembangunan di Tunyang berlangsung dengan sangat cepat, terutama jika dibandingkan dengan tantangan umum yang sering muncul dalam penanganan pascabencana.

Lahan datar jadi penentu

Salah satu faktor yang dianggap paling membantu adalah kesiapan lahan dari pemerintah daerah. Bupati Bener Meriah disebut telah menyiapkan area yang datar sehingga pengerjaan fisik bisa dilakukan dengan lebih mudah.

Tito menyoroti hal itu sebagai kelebihan yang tidak selalu ditemui di daerah lain. Aceh memang dikenal memiliki banyak wilayah berbukit, sehingga penyediaan lahan yang mudah diolah sering menjadi kendala dalam pembangunan hunian sementara.

Kondisi medan seperti di Tunyang memberi keuntungan besar sejak tahap awal. Proses penataan juga menjadi lebih efisien karena kawasan dapat disusun secara lebih tertib dan fungsional sejak awal pembangunan.

Tak sekadar tempat tinggal sementara

Selain menilai cepat, Tito juga melihat sisi kelayakan yang ada di kawasan tersebut. Permukaan tanah yang relatif datar dan berbatu membuat area tidak mudah becek saat hujan, sementara jalan di dalam kawasan sudah diperkeras untuk memudahkan mobilitas warga.

Bagi Tito, hunian sementara harus dipahami sebagai bagian dari ruang hidup warga, bukan sekadar tempat singgah. Ia menegaskan pentingnya penataan yang manusiawi agar para penyintas tetap bisa menjalani aktivitas harian dengan aman dan nyaman.

“Penataan seperti ini penting, karena huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tapi juga ruang hidup yang harus layak,” ujarnya.

Fasilitas dasar ditempatkan dalam satu kawasan

Di dalam kawasan huntara Tunyang, kebutuhan dasar penghuni juga telah dipikirkan dalam satu area terintegrasi. Fasilitas yang tersedia mencakup dapur umum, toilet dan kamar mandi, ruang berkumpul, serta tempat ibadah yang bisa digunakan bersama.

Selain itu, tersedia pula ruang terbuka untuk aktivitas warga. Area bermain anak dan fasilitas olahraga ikut disiapkan agar lingkungan hunian sementara tetap mendukung kehidupan sosial dan kegiatan sehari-hari.

Penataan seperti ini membuat penghuni tidak perlu keluar jauh untuk mengakses kebutuhan dasar. Kehadiran fasilitas bersama juga dinilai membantu warga melewati masa transisi dengan lebih tertata sambil menunggu hunian tetap selesai dibangun.

Bisa jadi rujukan daerah lain

Tito menilai pengalaman di Bener Meriah berpotensi menjadi rujukan bagi daerah lain, terutama wilayah yang menghadapi kondisi geografis serupa. Ketersediaan lahan datar dan kemudahan akses pembangunan memang sering menjadi hambatan utama dalam penanganan hunian sementara.

Karena itu, model yang diterapkan di Tunyang dianggap relevan untuk dipelajari. Meski begitu, Tito mengingatkan bahwa hunian sementara tetap bersifat sementara dan tidak boleh menggantikan target utama pembangunan rumah tetap bagi warga terdampak bencana.

“Kita ingin memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak, sambil menunggu huntap selesai dibangun,” kata Tito.

Kondisi di Tunyang memperlihatkan bahwa pembangunan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar kecepatan. Tata ruang yang baik, fasilitas dasar yang memadai, dan lingkungan yang nyaman sama pentingnya agar hunian sementara benar-benar membantu warga menjalani masa pemulihan dengan layak.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button