Pasar valuta asing kembali menunjukkan sikap hati-hati ketika rupiah ditutup melemah ke Rp17.179 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 22 April 2026. Pergerakan itu terjadi saat pelaku pasar menilai ketidakpastian gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata selesai.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari kabar geopolitik, tetapi juga dari respons investor yang cenderung mencari aset aman. Di tengah situasi tersebut, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia ikut turun dari Rp17.142 menjadi Rp17.179 per dolar AS.
Diplomasi yang belum meyakinkan pasar
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai rencana perpanjangan gencatan senjata yang disampaikan Presiden AS Donald Trump belum mampu mengubah sentimen pasar secara berarti. Menurut dia, Trump ingin memperpanjang jeda perang dengan Iran tanpa batas waktu agar pembicaraan bisa terus berlangsung.
Namun, pasar belum melihat dasar yang kuat dari langkah itu karena belum ada persetujuan resmi dari Iran maupun Israel. Ketidakjelasan tersebut membuat investor tetap menahan diri terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.
Ibrahim juga mengingatkan bahwa ketegangan di kawasan belum benar-benar turun. Angkatan Laut AS masih melakukan blokade di wilayah pelabuhan Iran, dan kondisi itu dibaca pasar sebagai sinyal bahwa risiko konflik tetap tinggi.
Sikap Iran turut menambah kehati-hatian investor. Ibrahim merujuk pernyataan Kantor Berita Tasnim yang menyebut Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata tersebut.
Ia menyebut Iran tetap memilih sikap untuk mematahkan blokade AS dengan kekerasan, sehingga prospek negosiasi terlihat rapuh. Situasi seperti ini membuat pasar sulit membangun optimisme yang bertahan lama.
Harapan singkat yang cepat memudar
Pada sesi perdagangan Asia, rupiah sempat mendapat dorongan setelah muncul laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance akan melanjutkan negosiasi di Pakistan. Kabar itu sempat memunculkan harapan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Meski begitu, sentimen positif tersebut tidak bertahan lama. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan penguatan rupiah kemudian terpangkas setelah muncul laporan hambatan birokrasi dan pembatalan agenda diplomatik yang kembali memicu keraguan pasar.
Media Sputnik melaporkan putaran kedua perundingan dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 22 April 2026. Walau jadwal itu sudah muncul, delegasi utama Iran disebut belum berangkat ke lokasi pertemuan.
Kondisi tersebut membuat pasar menilai peluang terobosan masih terbatas. Selama kepastian politik belum muncul, rupiah tetap rentan terhadap perubahan sentimen global yang datang silih berganti.
Tekanan dari dalam negeri belum ringan
Selain faktor luar negeri, pasar juga mencermati tekanan dari sisi domestik. Indonesia sedang menghadapi likuiditas yang ketat akibat lonjakan jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun pada tahun 2026.
Nilai itu disebut sebagai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Di dalamnya terdapat kewajiban Rp154,5 triliun dari skema berbagi beban bersama Bank Indonesia saat pandemi, yang kini ikut memengaruhi strategi pembiayaan pemerintah.
Ibrahim menilai besarnya beban pembayaran utang membuat pemerintah perlu melakukan refinancing dalam skala besar. Meski demikian, kebutuhan pembiayaan ulang juga membawa risiko karena dapat menambah tantangan dalam pengelolaan fiskal.
Dolar AS ikut menekan mata uang kawasan
Di saat yang sama, dolar AS mendapat dukungan tambahan dari data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Penjualan ritel AS pada periode Maret 2026 tumbuh 1,7 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi pasar di level 1,4 persen.
Data tersebut memperkuat posisi dolar AS di pasar global dan menekan mata uang negara berkembang. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi masih tinggi.
Josua Pardede memperkirakan Bank Indonesia masih akan menjaga suku bunga acuan di level 4,75 persen untuk meredam volatilitas. Ia juga melihat rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.125 hingga Rp17.225 per dolar AS dalam jangka pendek selama pasar belum memperoleh kejelasan dari arah diplomasi global dan perbaikan domestik belum cukup kuat.





