Bagi Bima Arya Sugiarto, ukuran seorang pemimpin tidak berhenti pada kemampuan mengelola urusan teknis. Wakil Menteri Dalam Negeri itu menilai kepemimpinan baru benar-benar kokoh jika ditopang ideologi yang kuat, nilai inklusif, dan keberanian menanggung risiko saat harus mengambil keputusan sulit.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam bedah buku “Babad Alas” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Di hadapan mahasiswa dan sivitas akademika, Bima menekankan bahwa keberpihakan kepada masyarakat harus menjadi dasar utama bagi siapa pun yang ingin memimpin.
Keberanian memilih prinsip saat berada di posisi sulit
Bima memandang pemimpin kerap dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, selalu ada pilihan antara bermain aman atau mengambil risiko demi menjaga prinsip yang diyakini.
Ia menegaskan bahwa keberanian mengambil risiko bukanlah tindakan nekat. Bagi dia, langkah itu justru menunjukkan konsistensi terhadap nilai yang jelas, sekaligus membuat keputusan lebih mudah dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Dari sudut pandang itu, pemimpin dinilai tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan yang aman tanpa pijakan nilai. Ketegasan moral dan arah ideologis menjadi hal yang membedakan keputusan biasa dengan keputusan yang berpihak.
Pengalaman memimpin Bogor jadi contoh
Pandangan tersebut juga ia kaitkan dengan pengalamannya memimpin Kota Bogor selama satu dekade. Menurut Bima, persoalan birokrasi dan masyarakat tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan administratif jika tidak disertai pegangan nilai yang tegas.
Ia mencontohkan kebijakan pembatasan izin penjualan alkohol di tempat hiburan malam. Langkah itu diambil untuk melindungi generasi muda, meski kebijakan tersebut memunculkan tekanan dari pihak tertentu.
Bima juga menyinggung penerapan prinsip inklusivitas ketika menangani konflik pendirian rumah ibadah yang berlangsung bertahun-tahun. Dari pengalaman itu, ia melihat pemimpin perlu menjaga keseimbangan antara ketegasan sikap dan keberpihakan kepada warga.
Ideologi harus ditopang organisasi kerja yang solid
Meski ideologi dianggap penting, Bima menilai itu belum cukup jika tidak diikuti strategi dan organisasi kerja yang kuat. Ia menekankan bahwa pemimpin harus mampu membangun harapan publik sekaligus menyiapkan birokrasi yang solid agar kebijakan benar-benar berjalan.
Dalam urusan sumber daya manusia, ia menempatkan karakter, loyalitas, dan militansi sebagai dasar sebelum kompetensi teknis. Bima menyatakan bahwa pemilihan pejabat tidak bisa bertumpu pada keahlian saja, melainkan juga pada adab dan integritas.
“Jadi ketika memilih kepala dinas bagi saya karakter kompetensi karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain,” kata Bima.
Integritas dijaga dari lingkungan terdekat
Untuk menjaga konsistensi nilai, Bima menilai interaksi langsung dengan masyarakat penting agar moral tetap terasah. Ia juga menyebut dialog dengan aktivis serta keterlibatan keluarga sebagai benteng terakhir dalam menjaga integritas.
Menurut dia, keluarga bisa menjadi ruang pengingat yang efektif untuk menolak penyimpangan, termasuk gratifikasi. Karena itu, nilai kritis dan etika perlu ditanamkan sejak awal agar seseorang tidak mudah goyah ketika berada di posisi berwenang.
Di hadapan mahasiswa, Bima turut mengingatkan bahwa masa kepemimpinan berjalan cepat. Ia meminta calon pemimpin mempersiapkan diri sejak dini dan memanfaatkan setiap kesempatan dengan disiplin serta dedikasi.
“Dan bagi kalian yang nanti akan menjadi pemimpin atau bercita-cita jadi pemimpin, jangan lewatkan momen itu. Karena 10 tahun itu cepat sekali. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin. Ketika sedang menjadi pemimpin, do it with passion,” tandasnya.
Acara bedah buku di Undip itu dihadiri Dekan FISIP Undip Teguh Yuwono, Asisten II Pemerintah Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, jajaran dosen, dan ratusan mahasiswa FISIP Undip. Dalam forum itu, pesan Bima tetap mengarah pada satu garis besar yang sama, yakni pemimpin perlu berpegang pada nilai yang jelas, berani menanggung risiko, dan menjaga integritas saat menjalankan amanah publik.
Source: www.viva.co.id




