Warga Sumatera Selatan diminta tidak lengah karena hujan lebat masih berpeluang muncul secara mendadak di hampir seluruh kabupaten dan kota hingga akhir Mei 2026. Situasi ini membuat aktivitas harian, terutama di wilayah rawan genangan dan lereng curam, perlu dipantau lebih hati-hati.
BMKG menilai kondisi atmosfer di Sumsel masih cukup mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar. Karena itu, masa pancaroba yang sedang berlangsung belum otomatis membuat potensi cuaca buruk mereda.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sinta Andayani, menyebut pengaruh Madden-Julian Oscillation atau MJO spasial masih terpantau aktif di sekitar Sumatera Selatan. Aktivitas ini ikut memperkuat peluang terbentuknya awan hujan secara luas.
Selain MJO, pola angin konvergen juga masih berperan mendorong pertumbuhan awan. Saat massa udara bertemu, awan hujan dapat berkembang lebih signifikan dan memicu hujan lebat dalam waktu singkat.
Waspada hujan yang datang tiba-tiba
BMKG mengingatkan bahwa hujan pada masa pancaroba kerap muncul tanpa banyak tanda awal. Kondisi itu dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, sehingga dampaknya bisa terasa cepat di lapangan.
Perubahan cuaca yang berlangsung singkat ini berisiko mengganggu aktivitas di jalur transportasi maupun permukiman padat. Warga diminta memperhatikan awan gelap dan segera menyesuaikan kegiatan saat cuaca mulai memburuk.
Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika hujan deras datang bersamaan dengan hembusan angin kuat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu menambah kewaspadaan.
Ancaman bencana hidrometeorologi masih terbuka
Cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi itu dapat memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah di Sumsel. BMKG menyoroti banjir dan genangan di kawasan perkotaan, tanah longsor di wilayah perbukitan atau lereng curam, serta pohon tumbang akibat angin kencang.
Ancaman hujan lebat tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah tertentu. Hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumsel berpotensi terdampak dalam periode ini.
Karena itu, masyarakat di daerah yang rawan genangan, perbukitan, dan kawasan padat penduduk diminta tetap siaga. Langkah sederhana seperti menjauhi area berisiko saat langit mulai gelap dapat membantu mengurangi dampak saat hujan turun mendadak.
Mitigasi diminta disiapkan lebih cepat
BMKG juga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait memperkuat langkah mitigasi di titik-titik rentan. Fokus utama antisipasi diarahkan ke wilayah yang kerap mengalami banjir, longsor, dan pohon tumbang.
Kesiapsiagaan dinilai penting untuk menekan kerugian materiil sekaligus mencegah korban jiwa. Dengan atmosfer yang masih labil, respons cepat dari aparat daerah menjadi salah satu kunci selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
BMKG menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat perlu berjalan seiring dengan kesiapan pemerintah daerah. Pemantauan kondisi cuaca dan respons dini menjadi kebutuhan utama karena perubahan atmosfer di Sumatera Selatan masih berpotensi berlangsung cepat.
Source: mediaindonesia.com




