Air Suci Dari Umbul Jumprit Mengalir Ke Borobudur, Makna Batin Yang Dijaga Umat Buddha Saat Waisak

Bagi umat Buddha, air dari Umbul Jumprit bukan hanya bagian dari rangkaian upacara Waisak, tetapi juga penanda makna yang lebih dalam tentang kejernihan batin. Saat air suci itu diambil dari sumber mata air di lereng Gunung Sindoro, nilai yang menempel padanya ikut dibawa bersama doa, tradisi, dan kebersamaan lintas majelis.

Prosesi pengambilan air berkah di Temanggung kembali menjadi perhatian dalam rangkaian Tri Suci Waisak 2570 BE/2026. Kegiatan ini digelar di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, dan diikuti ratusan peserta sebagai bagian dari Waisak Nasional.

Ritual yang dijaga dalam tradisi Waisak

Pengambilan air berkah dilaksanakan oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia atau Walubi. Dalam prosesi itu, anggota Sangha, bhikkhu, biksu, sramanera, serta perwakilan majelis Buddha dari berbagai daerah ikut hadir.

Sekitar 100 anggota Sangha dari 15 majelis Buddha yang tergabung dalam Walubi mengikuti jalannya acara. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa prosesi ini menjadi ruang perjumpaan banyak unsur dalam umat Buddha pada satu momen ibadah yang sama.

Sebelum air diambil, para peserta lebih dulu menjalankan ritual dan doa bersama sesuai tradisi masing-masing majelis. Susunan ini memperlihatkan bahwa pengambilan air berkah dipahami sebagai laku spiritual, bukan sekadar seremoni.

Air yang dimaknai sebagai simbol batin

Ketua Umum Mahabudhi, Biksu Samanta Kusala Mahasthavira, menyebut prosesi ini sebagai salah satu rangkaian terbesar dalam Tri Suci Waisak. Ia menekankan bahwa air berkah membawa makna yang lebih dalam bagi umat Buddha.

Menurut Samanta, air itu melambangkan kejernihan, kebeningan, dan kesucian batin. Makna tersebut membuat Umbul Jumprit dipandang bukan hanya sebagai lokasi pengambilan air, melainkan juga ruang simbolik yang menghubungkan alam, ritual, dan nilai spiritual.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga pikiran tetap jernih. Dari kejernihan itu, umat diharapkan dapat memancarkan cinta kasih universal dan memberi dampak baik bagi seluruh makhluk hidup.

Prosesi di mata air suci Temanggung

Puluhan biksu berjalan kaki menuju sumber mata air sambil membawa kendi. Air kemudian diambil menggunakan gayung dan dimasukkan ke dalam kendi secara bergantian oleh perwakilan masing-masing majelis.

Umbul Jumprit yang berada di lereng Gunung Sindoro kembali menempati posisi penting dalam perayaan Waisak Nasional. Air dari tempat ini selalu dipandang sebagai bagian utama yang mengiringi umat Buddha menuju puncak peringatan.

Sesudah diambil, air berkah dibawa ke Candi Mendut di Kabupaten Magelang untuk disemayamkan dan disakralkan. Dari sana, air itu akan dibawa secara karnaval menuju altar utama di Candi Borobudur.

Tradisi tersebut sudah lama menjadi bagian penting dari Waisak Nasional setiap tahun. Karena itu, air suci dari Umbul Jumprit terus diperlakukan sebagai unsur yang menjaga hubungan antara kesakralan alam dan perayaan keagamaan yang diwariskan turun-temurun.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button