Di tengah kabar meredanya tembakan, posisi lapangan justru menunjukkan hal yang berbeda. Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan pertempuran langsung, tetapi Benjamin Netanyahu memberi sinyal keras bahwa serangan ke Lebanon masih bisa meluas hingga Beirut.
Trump menyampaikan klaim itu setelah berkomunikasi dengan Netanyahu dan pihak Lebanon lewat jalur mediator. Dalam unggahannya di media sosial, ia menyebut Hizbullah setuju menghentikan semua aksi penembakan, sementara Israel tidak akan menyerang dan Hizbullah tidak akan membalas.
Namun, pernyataan itu belum tampak sejalan dengan situasi perang yang masih bergerak di lapangan. Serangan dan baku tembak tetap berlangsung, sementara korban sipil terus bertambah dan warga kembali meninggalkan wilayah yang dianggap rawan.
Sinyal keras dari Netanyahu
Respons Netanyahu membuat narasi damai yang dibawa Trump langsung terlihat rapuh. Ia menolak menggambarkan pembicaraan itu sebagai perdamaian dan justru menyebutnya sebagai peringatan bagi Lebanon.
Netanyahu juga menegaskan kepada Trump bahwa IDF tidak akan ragu menghantam target-target di Beirut. Bahkan, ia memberi isyarat bahwa tekanan militer terhadap Hizbullah belum akan berhenti dalam waktu dekat.
Sinyal itu muncul di saat militer Israel disebut telah melakukan penetrasi terdalam ke wilayah Lebanon dalam seperempat abad terakhir. Di sisi lain, Trump sempat menekankan bahwa tidak akan ada pergerakan tentara Israel menuju Beirut.
Klaim damai yang belum mendapat pegangan
Di antara dua pernyataan yang bertolak belakang itu, Hizbullah belum mengeluarkan sikap resmi. Kondisi tersebut membuat klaim penghentian aksi saling serang yang disampaikan Trump belum memiliki konfirmasi dari pihak utama yang terlibat dalam konflik.
Sebelumnya, hubungan Israel dan Hizbullah disebut berada di bawah kesepakatan gencatan senjata sejak pertengahan April 2026. Tetapi baku tembak kembali pecah setelah operasi militer Israel di Lebanon memicu reaksi balasan.
Dokumen yang dikaitkan dengan Kedutaan Besar Lebanon untuk Amerika Serikat menyebut Beirut telah mengamankan persetujuan Hizbullah atas proposal damai dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Isi proposal itu mengatur agar Israel tidak menyasar pinggiran selatan Beirut, sementara Hizbullah menghentikan rentetan roket ke Israel Utara.
Korban sipil dan pengungsian terus bertambah
Di lapangan, eskalasi masih meninggalkan dampak berat bagi warga sipil. Serangan udara Israel di Lebanon Selatan dilaporkan menewaskan enam orang, termasuk seorang warga Suriah di dekat Nabatiyeh.
Di Kota Tyre, serangan juga merusak parah fasilitas Rumah Sakit Jabal Amel. Gelombang kekerasan itu mendorong warga mencari perlindungan seadanya, termasuk seorang mahasiswa berusia 23 tahun, Mohammed Farhat, yang mengatakan dirinya harus mengungsi dengan sepeda motor demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Sesaat sebelum klaim damai Trump muncul, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz justru mengarahkan militer Israel untuk menyerang Beirut. Hal itu membuat arah kebijakan Israel tampak bergerak berlawanan dengan pesan penurunan eskalasi.
Dinamika regional masih menegang
Rangkaian kontak senjata ini terjadi menjelang rencana negosiasi langsung antara utusan Israel dan Lebanon di Washington pada Selasa dan Rabu. Namun, Hizbullah selama ini konsisten menolak dialog bilateral langsung dan lebih memilih jalur tekanan politik Iran terhadap Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus berlaku menyeluruh. Ia menulis di platform X bahwa “pelanggaran di satu front adalah pelanggaran di semua front,” merujuk pada pandangan Teheran bahwa konflik di satu wilayah tidak bisa dipisahkan dari front lain.
Hingga pertengahan 2026, eskalasi antara Israel dan Hizbullah telah menewaskan 3.433 orang di Lebanon dan memaksa lebih dari 1 juta penduduk kehilangan tempat tinggal. Di sisi lain, penggunaan drone serat optik oleh Hizbullah juga disebut menjadi ancaman serius bagi militer Israel, dengan sedikitnya 26 tentara IDF dilaporkan tewas di Lebanon Selatan.
Source: www.suara.com




