Saat Hidraulik Lumpuh, Pilot Flight 232 Menyelamatkan Arah Pesawat Dengan Mesin

Di dalam kokpit United Flight 232, situasi berubah menjadi pertarungan melawan waktu ketika pesawat besar itu tak lagi punya kendali normal. Yang tersisa justru cara yang hampir tak masuk akal bagi penerbangan penumpang: mengarahkan pesawat lewat dorongan mesin.

Pesawat McDonnell Douglas DC-10 itu mengangkut 296 orang dari Denver menuju Chicago saat mesin di ekor meledak di atas Iowa. Ledakan tersebut merusak sistem hidraulik dan membuat pesawat kehilangan kemampuan biasa untuk dibelokkan serta dijaga stabil.

Bagi Kapten Al Haynes, dentuman itu terdengar seperti bom. Tak lama kemudian, badan pesawat bergetar keras dan miring tajam ke kanan, sementara para penumpang merasakan guncangan hebat saat pesawat bergeser di udara.

DC-10 sebenarnya dirancang agar tetap bisa terbang jika satu mesin gagal. Namun kerusakan pada Flight 232 jauh lebih parah karena pecahan logam dari ledakan menembus sistem yang menggerakkan kendali pesawat.

Haynes dan First Officer William Records masih memegang yoke dan menekan pedal kemudi. Meski begitu, tanpa tekanan hidraulik, respons pesawat nyaris tidak ada meski instrumen, radio, dan dua mesin di bawah sayap masih berfungsi.

Dalam kondisi itu, kru mulai mencari satu-satunya alat yang masih bisa dimanfaatkan. Dorongan mesin menjadi pilihan terakhir, meski cara tersebut sama sekali bukan metode normal untuk mengendalikan pesawat penumpang.

Menurut kisah yang ditulis Laurence Gonzales dalam fitur klasik Pop Mech “The Crash of United Flight 232”, Haynes menyadari bahwa mesin masih mungkin memberi sedikit pengaruh pada arah pesawat. Saat pesawat berhenti menanjak dan mulai turun sambil miring ke kanan, ia mengambil roda kendali sendiri.

Ketika kemiringan mencapai sekitar 38 derajat dan pesawat nyaris terbalik, Haynes menutup throttle mesin kiri No. 1 dan mendorong throttle mesin kanan No. 3 hingga penuh. Beberapa detik kemudian, sayap kanan perlahan kembali naik.

Haynes lalu menarik throttle kiri dan mendorong throttle kanan lebih jauh. Dorongan yang tidak seimbang itu membuat hidung pesawat berbelok ke kiri, dan sayap kanan kembali terangkat.

Cara itu memang memberi hasil, tetapi reaksinya sangat lambat. Kru harus memberi perubahan kecil, menunggu pesawat bereaksi, lalu menebak langkah berikutnya dari gerakan yang muncul.

Flight 232 kemudian bergerak naik turun dalam siklus panjang. Hidung pesawat turun, kecepatannya bertambah, lalu hidung naik, kecepatannya berkurang, dan pola itu berulang lagi.

Di tengah usaha itu, Kapten Dennis Fitch, seorang instruktur DC-10 yang kebetulan berada di dalam pesawat, maju dan mengambil alih throttle. Haynes dan Records tetap berjuang dengan yoke sementara pesawat terus turun dalam belokan lebar.

Meski rusak berat, pesawat itu masih bisa diarahkan ke Sioux City Gateway Airport. Pada pukul 3.45 sore, kru berhasil melakukan satu-satunya belokan ke kiri.

Beberapa menit kemudian, roda pendarat diturunkan secara manual. Pada pukul 4 sore, Flight 232 sudah menghadap Runway 22, tetapi kecepatannya masih terlalu tinggi dan penurunannya terlalu cepat.

Saat pesawat sejajar dengan Runway 22, Fitch memahami bahwa ada 360.000 pon daging dan logam yang melaju hampir 250 mph tanpa cara untuk berhenti. Gambaran itu menunjukkan betapa sempitnya ruang bagi kesalahan, bahkan setelah semua upaya dilakukan.

Pendaratan akhirnya berakhir tragis. Sayap kanan menghantam lebih dulu, lalu roda pendarat menghantam beton lama dan merobek badan pesawat sebelum pesawat hancur, terbakar, dan terbalik.

Dari 296 orang di dalamnya, 185 selamat. Flight 232 kemudian dikenang sebagai salah satu kasus paling unik dalam sejarah kecelakaan udara karena kru berhasil menjaga pesawat tetap hidup cukup lama untuk menyelamatkan begitu banyak orang.

Setelah kejadian itu, NASA menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajarinya. Para peneliti menemukan bahwa pesawat yang rusak kadang masih bisa dijaga tetap di udara dengan bantuan dorongan mesin, tetapi metode itu terlalu lambat untuk pendaratan yang andal tanpa bantuan komputer.

Flight 232 tidak memiliki bantuan seperti itu. Namun justru di tengah keterbatasan itulah para pilot mencoba sesuatu yang hampir tak terpikirkan: mengendalikan pesawat yang jatuh hanya dengan mesin yang masih tersisa.

Baca Juga

Back to top button