Rupiah Kembali Tertekan, Buntu Negosiasi AS-Iran dan Data Inflasi AS Jadi Beban Utama

Tekanan terhadap rupiah belum mereda karena pasar masih dibayangi kombinasi dua hal besar: kebuntuan diplomasi AS-Iran dan penantian data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Di tengah suasana yang cenderung hati-hati, mata uang Indonesia akhirnya ditutup melemah ke Rp 17.414 per dolar AS.

Pergerakan itu menunjukkan pasar masih sensitif terhadap setiap perkembangan dari luar negeri. Ketika sentimen risk-off menguat, aset berisiko seperti rupiah biasanya ikut tertekan lebih dalam.

Geopolitik Timur Tengah kembali jadi sorotan

Direktur PT Tetraze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Ia merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran atas proposal perdamaian dari Washington “sama sekali tidak dapat diterima”.

Nada tersebut membuat pasar semakin tidak nyaman karena peluang tercapainya kesepakatan damai terlihat makin jauh. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung menahan diri karena risiko geopolitik di Timur Tengah bisa meluas dan memengaruhi minat terhadap aset berisiko.

Proposal awal dari Washington sendiri berisi tuntutan agar Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus persediaan uranium, dan membongkar fasilitas nuklir utama. Sebagai gantinya, AS menawarkan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.

Respons Tehran memperlebar jarak

Dari sisi Iran, sikap yang disampaikan melalui mediator Pakistan justru menunjukkan penolakan terhadap beberapa poin penting. Tehran meminta pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran untuk tetap melanjutkan sebagian aktivitas nuklir.

Perbedaan sikap itu membuat ruang kompromi semakin sempit. Selama belum ada titik temu, ketegangan di kawasan tetap menjadi faktor yang membebani sentimen pasar global.

Pasar juga menunggu arah kebijakan AS

Selain isu Timur Tengah, pasar masih menatap sederet data ekonomi penting dari AS. Fokus utamanya berada pada rilis inflasi bulan April, termasuk indeks harga konsumen atau CPI dan indeks harga produsen atau PPI.

Pelaku pasar juga mencermati data penjualan ritel serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve. Rangkaian informasi itu dinilai dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga AS sekaligus kekuatan dolar.

Bila dolar menguat, tekanan terhadap mata uang emerging market seperti rupiah biasanya ikut bertambah. Karena itu, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada sinyal yang datang dari ekonomi AS.

Sinyal dalam negeri belum cukup menahan tekanan

Di sisi domestik, ada kabar yang relatif positif dari survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026.

Penguatan itu terutama ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang naik menjadi 116,5 dari 115,4. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen masih berada di zona optimistis pada level 129,6, meski turun dari 130,4 pada Maret 2026.

Data tersebut menandakan psikologi konsumen masih cukup terjaga. Namun, dukungan dari dalam negeri itu belum mampu menandingi kuatnya tekanan eksternal yang sedang mendominasi pasar valuta asing.

Rupiah diperkirakan masih bergerak liar

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif. Ia memproyeksikan kurs masih berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp 17.410 hingga Rp 17.460 per dolar AS.

Selama ketidakpastian geopolitik belum mereda dan pasar masih menunggu katalis baru dari AS, rupiah tetap berada dalam posisi rentan. Arah selanjutnya akan mengikuti perkembangan negosiasi internasional, rilis inflasi AS, dan respons pasar terhadap sinyal kebijakan global.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button