Sorotan Prabowo Subianto di forum KTT ASEAN di Cebu, Filipina, tidak berhenti pada diplomasi kawasan semata. Ia membawa proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt sebagai pesan bahwa Indonesia sedang mendorong transisi energi ke arah yang lebih nyata dan terukur.
Di hadapan forum itu, proyek PLTS 100 GW diposisikan sebagai bukti bahwa energi bersih bukan lagi gagasan umum, melainkan agenda yang tengah dipercepat pemerintah. Prabowo juga mengaitkannya dengan kebutuhan memperkuat ketahanan energi di tengah tekanan global yang masih tinggi.
PLTS 100 GW Jadi Pusat Perhatian
Prabowo menyebut pengembangan PLTS 100 GW sebagai salah satu tanda komitmen pemerintah dalam mendorong energi baru terbarukan. Ia menegaskan bahwa proyek tersebut terus dipacu sebagai penggerak penting transisi energi nasional.
Pada tahap awal, proyek ini ditargetkan mencapai kapasitas 13 GW hingga 17 GW. Prabowo juga menyampaikan target agar PLTS 100 GW bisa rampung dalam waktu dua tahun untuk mempercepat peralihan energi.
Pesan untuk ASEAN: Dari Potensi ke Aksi
Pernyataan itu disampaikan saat Prabowo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Khusus BIMP-EAGA, yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ASEAN. Dari forum tersebut, ia mengarahkan perhatian bukan hanya ke Indonesia, tetapi juga ke kawasan Asia Tenggara.
Prabowo menilai ASEAN memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar. Ia menyebut tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, dan lahan subur yang belum dimanfaatkan optimal di Brunei, Malaysia, Filipina, dan wilayah sekitarnya.
Menurut Prabowo, kawasan tidak cukup hanya mengakui besarnya potensi itu. Ia mendorong negara-negara anggota untuk bergerak menuju tindakan nyata agar sumber energi tersebut bisa mendukung kebutuhan subregional sekaligus memperkuat transisi energi ASEAN secara lebih luas.
Proyek Kawasan yang Dianggap Masih Terbuka
Dalam forum yang sama, Prabowo juga menyinggung peluang proyek yang bisa didorong bersama di kawasan. Ia menyebut pengembangan tenaga air di Borneo, perluasan proyek energi surya di Palawan, dan pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir sebagai agenda yang layak dipercepat.
Ia menilai konektivitas subkawasan juga penting agar energi dapat mengalir lebih efisien. Salah satu yang disoroti adalah peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid.
Pendanaan dan Keahlian Jadi Kunci
Meski peluangnya besar, Prabowo menegaskan bahwa agenda energi bersih tidak akan berjalan tanpa dukungan yang memadai. Ia menyebut kebutuhan untuk mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis, dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional serta mitra pembangunan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa transisi energi dipandang sebagai pekerjaan bersama, bukan urusan domestik semata. Dalam konteks BIMP-EAGA, Prabowo juga menempatkan ketahanan energi sebagai tantangan regional di tengah tekanan global dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah.
Dengan membawa PLTS 100 GW ke panggung ASEAN, Indonesia memberi sinyal bahwa energi surya mulai menempati posisi yang lebih sentral dalam strategi energinya. Di saat yang sama, pesan yang dibawa Prabowo menekankan bahwa potensi besar di kawasan hanya akan bermakna jika segera diubah menjadi proyek nyata.
Source: www.beritasatu.com




