Sorotan terhadap kapal Gamsunoro memunculkan pertanyaan publik tentang komposisi awak dan cara operasinya. PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi jalannya bisnis, karena pengelolaan kapal tetap mengikuti standar internasional yang berlaku di industri pelayaran.
Perusahaan juga menampik anggapan bahwa keberadaan kru asing di kapal sewaan merupakan hal yang luar biasa. Dalam bisnis maritim global, penggunaan manajemen kapal oleh penyewa memang menjadi praktik yang umum, terutama pada armada yang beroperasi lintas negara dan melayani pasar internasional.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menjelaskan bahwa skema seperti itu bagian dari model usaha yang lazim digunakan di pelayaran dunia. Dalam mekanisme tersebut, perusahaan tetap memastikan seluruh tenaga kerja yang terlibat memenuhi regulasi serta standar operasional yang ketat, termasuk ketika ada kru asing di kapal sewaan.
Di tengah perhatian publik, PIS menegaskan bahwa pelaut Indonesia tetap menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Porsi awak kapal nasional disebut mencapai 94 persen dari total tenaga kerja maritim di lingkungan operasional Pertamina.
Data perusahaan menunjukkan sekitar 4.090 kru berkewarganegaraan Indonesia bekerja di armada Pertamina Group. Mereka bertugas di jalur domestik maupun internasional dan memegang peran penting dalam menjaga kelancaran operasi kapal.
Jumlah pelaut asing yang tercatat jauh lebih kecil, yakni 278 orang. Angka itu setara dengan 6 persen dari total awak kapal di lingkungan Pertamina Group, sehingga komposisi kru nasional tetap sangat dominan.
Menurut Vega Pita, kondisi tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengembangkan kompetensi talenta nasional. PIS ingin pelaut Indonesia memiliki daya saing yang kuat di pasar kerja maritim yang semakin terbuka dan menuntut standar tinggi.
Sementara itu, kapal Gamsunoro sendiri disebut beroperasi di pasar global melalui skema sewa pihak ketiga. Armada ini melayani wilayah Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika, mengikuti pola bisnis yang membuka akses lebih luas ke rantai pasok angkutan maritim internasional.
PIS memandang langkah tersebut sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan. Di saat yang sama, ekspansi ke pasar global juga dinilai berpotensi memberi kontribusi terhadap penerimaan devisa negara melalui sektor angkutan maritim.
Klarifikasi mengenai isu kru Gamsunoro juga memperlihatkan upaya PIS menjaga reputasi dan keterbukaan operasional di tengah perhatian publik. Perusahaan menempatkan kerja sama internasional sebagai bagian dari strategi bisnis, tanpa mengubah komposisi besar pelaut Indonesia yang tetap mendominasi operasional pelayaran.





