Penyelidikan tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur belum akan cepat selesai. KNKT masih menelusuri urutan kejadian, titik-titik krusial, dan data teknis sebelum menyampaikan penyebab pasti insiden yang menewaskan 16 orang itu.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan kesimpulan awal baru bisa dirampungkan dalam waktu 2 sampai 3 bulan, selama seluruh proses berjalan lancar. Menurut dia, tim masih mengumpulkan data dan memeriksa lapangan untuk memastikan rangkaian peristiwa dapat disusun secara utuh.
Di tahap ini, rekonstruksi waktu menjadi fokus penting. KNKT perlu memastikan posisi kereta, kondisi jalur, dan urutan kejadian secara detail agar dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi di Bekasi Timur.
Kronologi yang dihimpun Kementerian Perhubungan memberi gambaran bahwa peristiwa di jalur itu berlapis dan saling berkaitan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menjelaskan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI bahwa KA Commuter Line 5568A tiba lebih awal 1 menit di Stasiun Bekasi pada pukul 20.34, disusul KA 116B Sawunggalih yang datang pukul 20.35 atau terlambat 5 menit dari jadwal.
Setelah berhenti untuk menaikkan penumpang, KA Sawunggalih kembali berangkat sekitar pukul 20.37 WIB. Kereta itu lalu melintas di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.39 WIB, sebelum rangkaian kejadian berikutnya berkembang di lokasi yang sama.
Masalah bermula ketika sebuah taksi mogok di tengah rel di kawasan Stasiun Bekasi Timur. Pada pukul 20.48 WIB, KA 5181B relasi Cikarang-Jakarta melintas dan tertemper taksi tersebut.
Benturan itu memicu kerumunan warga yang mendekat ke lokasi untuk melihat kondisi di rel. Dalam situasi tersebut, KA 5568A yang sempat terlambat 8 menit diberangkatkan pukul 20.45 dari Stasiun Bekasi dan tiba di Stasiun Bekasi Timur pada 20.49 WIB.
Dudy menyebut kereta itu sempat bergerak, tetapi kemudian terhenti karena ada kerumunan di depan yang melihat kejadian temperan tadi. Kondisi di lapangan pada saat itu ikut menjadi bagian penting dalam penelusuran penyebab kecelakaan yang lebih besar.
Tak lama sesudahnya, KA Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Bekasi sekitar pukul 20.51 WIB. Dudy mengatakan kereta tersebut melaju 108 km/jam dan lebih cepat 3 menit dari jadwal, sebelum tumburan terjadi pada pukul 20.52 WIB.
Data awal yang dipegang penyidik KNKT juga menunjukkan jeda 3 menit 43 detik antara temperan taksi dan kecelakaan KRL-Argo Bromo Anggrek. Selain itu, masinis KA Argo Bromo disebut sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 kilometer sebelum tabrakan terjadi.
Rangkaian data tersebut membuat penyelidikan KNKT tidak berhenti pada satu titik kejadian saja. Lembaga itu masih menunggu seluruh pemeriksaan dan analisis teknis selesai sebelum mengumumkan penyebab kecelakaan secara utuh.
Source: www.viva.co.id




