Papua Diminta Ambil Peran Lebih Besar dalam Asta Cita
Papua kini diposisikan bukan sekadar sebagai wilayah penerima kebijakan, tetapi sebagai daerah yang diharapkan ikut mendorong pemerataan pembangunan nasional. Gubernur Papua Matius Fakhiri menegaskan bahwa peran itu hanya bisa berjalan jika pemerintah pusat dan daerah bergerak selaras dalam satu arah kebijakan.
Penegasan tersebut disampaikan saat Fakhiri membacakan amanat tertulis Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian pada peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 di Jayapura. Dalam amanat itu, otonomi daerah disebut sebagai alat penting untuk mempercepat pemerataan pembangunan, memperkuat pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sinergi Jadi Penentu Pelaksanaan Kebijakan
Fakhiri menyoroti bahwa otonomi daerah tidak cukup dipahami sebagai pembagian kewenangan administratif semata. Menurut dia, otonomi harus menjadi dasar bagi pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan, terutama di Tanah Papua.
Ia menilai penyelarasan antara kebijakan pusat dan daerah menjadi kunci agar program pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri. Jika koordinasi berjalan kuat, pemerintah daerah dapat menyesuaikan pelaksanaan kebijakan nasional dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Enam Arah Strategis untuk Daerah
Amanat Mendagri juga memuat enam langkah strategis yang perlu dijalankan pemerintah daerah. Enam hal itu meliputi integrasi perencanaan dan penganggaran, reformasi birokrasi berbasis hasil, penguatan kemandirian fiskal, kolaborasi antardaerah, fokus pada layanan dasar dan pengentasan ketimpangan, serta penguatan stabilitas dan ketahanan daerah.
Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan otonomi daerah sangat bergantung pada kemampuan daerah membangun sistem yang efektif. Kemandirian fiskal, reformasi birokrasi, dan kerja sama antardaerah menjadi unsur penting agar pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Papua dan Agenda Nasional
Selain soal tata kelola daerah, pemerintah daerah juga diminta mendukung agenda strategis nasional yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Agenda itu mencakup penguatan swasembada pangan dan energi, pengelolaan sumber daya air, pengembangan kewirausahaan, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, penanganan stunting, serta penguatan ekonomi lokal.
Bagi Papua, arahan tersebut memiliki relevansi yang besar karena wilayah ini menyimpan tantangan sekaligus potensi. Fakhiri menyebut Papua siap mengambil bagian dalam mendukung ketahanan pangan, menjaga stabilitas, dan mendorong pembangunan berkelanjutan yang memberi dampak langsung bagi warga.
Pemerataan Hingga Wilayah Terpencil
Di tingkat provinsi, pemerataan pembangunan menjadi perhatian yang terus ditekankan. Fakhiri menegaskan komitmen Papua untuk mendorong pembangunan yang menjangkau wilayah terpencil, yang selama ini membutuhkan perhatian lebih besar.
Arah tersebut sejalan dengan semangat otonomi daerah yang ingin menghadirkan layanan publik lebih dekat kepada masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah dituntut lebih adaptif dalam merespons kebutuhan setempat tanpa keluar dari kerangka besar pembangunan nasional.
Papua Diharapkan Jadi Motor Penggerak
Fakhiri juga menilai Papua memiliki potensi besar yang perlu terus dioptimalkan melalui tata kelola yang baik. Ia menyebut inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan sinergi sebagai kunci agar daerah mampu berperan sebagai motor penggerak pembangunan nasional.
Tema peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30, “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita”, mempertegas arah kebijakan yang ingin dicapai bersama. Upacara di Jayapura itu berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran Forkopimda, ASN, TNI-Polri, serta berbagai elemen masyarakat.
Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa desentralisasi harus terus diperkuat agar tata kelola pemerintahan lebih transparan, akuntabel, dan siap menjawab tantangan pembangunan di daerah. Dalam kerangka itu, Papua diharapkan bukan hanya mengikuti arah kebijakan nasional, tetapi juga ikut mendorong pemerataan, stabilitas, dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Source: www.medcom.id




