Minyak Melonjak, Emas Terseret Saat Pasar Menakar Inflasi Dan Suku Bunga Tinggi

Pasar emas kembali berada di bawah tekanan karena lonjakan harga minyak mentah membuat kekhawatiran inflasi menguat. Di saat yang sama, pelaku pasar membaca bahwa suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama, sehingga minat terhadap logam mulia ikut melemah.

Pada perdagangan pagi ini, harga emas spot tercatat turun 0,7% menjadi US$ 4.705,09 per ons troi pada pukul 09.15 WIB. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Juni 2026 juga terkoreksi 0,6% ke US$ 4.722,10.

Minyak mentah jadi pemicu utama tekanan

Kenaikan harga minyak menjadi faktor yang paling terasa membebani emas dalam perdagangan kali ini. Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel setelah pasar merespons penurunan stok bensin dan distilat di Amerika Serikat yang lebih besar dari perkiraan.

Tekanan pada sentimen pasar bertambah karena belum ada kemajuan dalam pembicaraan damai. Kondisi tersebut membuat kekhawatiran soal arah inflasi kembali mencuat, sebab energi yang lebih mahal berpotensi mendorong biaya hidup meningkat lebih agresif.

Tim Waterer, analis pasar utama KCM Trade, menilai kembalinya harga minyak ke level tiga digit telah menghidupkan lagi kekhawatiran inflasi. Menurut dia, pasar kemudian melihat kemungkinan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih panjang.

Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas

Emas biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai saat inflasi meningkat. Namun, situasinya berubah ketika pasar menilai suku bunga bertahan tinggi, karena instrumen berimbal hasil menjadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Dalam kondisi seperti itu, tekanan pada emas kerap datang dari ekspektasi kebijakan moneter yang belum longgar. Selama pasar yakin bank sentral belum akan cepat menurunkan suku bunga, minat terhadap logam mulia cenderung tertahan.

Pergerakan pada pagi ini menunjukkan bahwa emas masih sangat sensitif terhadap hubungan antara harga energi, inflasi, dan kebijakan bank sentral. Selama minyak tetap mahal, pasar berpotensi terus menilai bahwa tekanan harga belum benar-benar mereda.

Ketegangan geopolitik masih menambah kehati-hatian

Di samping faktor minyak dan suku bunga, pasar juga masih memperhatikan ketegangan geopolitik yang belum mereda. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap perdagangan Iran.

Situasi itu menambah ketidakpastian di jalur pelayaran penting tersebut dan ikut menjaga sentimen pasar tetap rapuh. Investor cenderung berhati-hati karena gangguan di kawasan itu bisa memengaruhi arah harga energi sekaligus aset safe haven.

Tekanan yang sama juga terlihat pada logam mulia lain. Harga perak spot turun 1,4% menjadi US$ 76,64 per ons troi, platinum melemah 1,3% ke US$ 2.048,25, dan paladium turun 1% ke US$ 1.529,25 per ons troi.

Gerak serempak itu memperlihatkan pasar sedang menimbang ulang prospek aset tanpa imbal hasil di tengah energi yang mahal dan ekspektasi suku bunga tinggi. Selama kondisi tersebut belum berubah, emas berpotensi tetap bergerak sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari minyak, inflasi, dan arah kebijakan moneter.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button