Lolos Verifikasi Bisa Dipalsukan, Deepfake AI Kini Mengincar Dana Nasabah Bank

Ancaman deepfake kini tidak lagi berhenti pada layar gawai atau akun media sosial. Di sektor keuangan, teknologi ini mulai menyasar proses yang paling sensitif, yakni verifikasi identitas, otorisasi transaksi, dan perlindungan dana nasabah.

Situasinya menjadi lebih serius karena pelaku kejahatan tidak lagi hanya mengandalkan penipuan biasa. Mereka memanfaatkan wajah sintetis dan kloning suara untuk menembus sistem yang selama ini dipakai bank dan layanan keuangan dalam proses akses jarak jauh.

Data dari OJK dan Indonesia Anti Scam Centre menunjukkan ada 274.000 laporan penipuan keuangan sepanjang periode akhir 2024 hingga 2025. Total kerugian masyarakat diperkirakan sudah melampaui Rp6 triliun akibat eksploitasi identitas digital.

Skala tersebut memperlihatkan bahwa deepfake bukan lagi ancaman yang jauh di depan. Serangan ini sudah masuk ke tahap yang nyata dan mulai menggerogoti saldo nasabah di berbagai wilayah.

Onboarding digital ikut membuka celah

Perbankan digital memang memperluas akses layanan keuangan. Namun, pertumbuhan itu juga menciptakan sasaran baru bagi penipu siber karena banyak rekening kini dibuka lewat kanal onboarding jarak jauh.

Proses yang dirancang untuk memudahkan nasabah justru menjadi titik rawan ketika pelaku memakai rekaman wajah sintetis berkualitas tinggi. Risiko ini semakin besar pada perusahaan pembiayaan dan platform pembayaran digital yang belum memperbarui sistem keamanan dengan teknologi deteksi anomali terbaru.

Puluhan juta rekening yang dibuka secara digital kini menjadi target yang menarik. Serangan identitas sintetis memanfaatkan ketergantungan pada wajah, suara, dan data digital dalam proses akses yang makin cepat dan makin jauh dari interaksi tatap muka.

Regulator dorong penguatan standar

Dalam diskusi bertajuk “AI, Risk and Regulation” di Jakarta, AFTECH bersama ADVANCE.AI membahas langkah pertahanan nasional terhadap serangan identitas sintetis. Forum itu juga melibatkan regulator senior dan pakar teknologi untuk merumuskan langkah yang lebih proaktif bagi ekonomi digital Indonesia.

Indah Iramadhini dari OJK menegaskan bahwa kerangka pengawasan akan terus berkembang. Tujuannya agar inovasi teknologi tetap berjalan seiring dengan perlindungan konsumen.

OJK juga mewajibkan lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis dan verifikasi liveness yang lebih kuat sebagai standar operasional utama. Di saat yang sama, regulator ingin menyusun panduan yang ketat tetapi tetap praktis agar integritas sistem keuangan tetap terjaga tanpa menghambat pertumbuhan industri.

Teknologi tersedia, penerapan masih jadi ujian

ADVANCE.AI menilai teknologi untuk mendeteksi serangan deepfake sebenarnya sudah matang. Tantangan terbesar justru ada pada penerapan menyeluruh, mulai dari tahap onboarding hingga pemantauan transaksi secara real-time.

Kemitraan strategis dengan AFTECH menunjukkan bahwa deteksi identitas sintetis bukan lagi sekadar opsi tambahan. Bagi industri keuangan, verifikasi berbasis AI yang adaptif dipandang sebagai investasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis di era digital.

Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal AFTECH, menekankan bahwa tiap institusi keuangan memiliki profil risiko yang berbeda. Karena itu, strategi mitigasi perlu disusun secara kontekstual agar pertahanan siber sesuai dengan karakteristik masing-masing penyelenggara layanan fintech.

Kolaborasi antara asosiasi, penyedia teknologi, dan pemerintah menjadi penentu dalam membangun ekosistem digital yang lebih tangguh. Dengan sinergi lintas sektor, Indonesia diharapkan tetap bisa menikmati manfaat kemajuan teknologi tanpa mengorbankan keamanan dana masyarakat.

Source: id.mashable.com

Baca Juga

Back to top button