Ketegangan Timur Tengah Mengguncang Jalur Minyak, Harga Global Kembali Tertekan Tekanan Baru

Pasar minyak global kembali bergulat dengan tekanan baru ketika gangguan distribusi energi di Timur Tengah membuat jalur pasokan terasa makin rapuh. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar tidak hanya memantau pergerakan harga, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang bisa muncul jika pengiriman minyak dari kawasan tersebut kembali tersendat.

Kekhawatiran itu muncul di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda, termasuk hubungan yang ikut terseret antara Amerika Serikat dan China. Bagi pasar, isu minyak kini tidak berdiri sendiri karena setiap gangguan pasokan di kawasan strategis langsung memicu penilaian ulang terhadap stabilitas energi dunia.

Harga acuan bergerak di level tinggi

Tekanan paling terlihat datang dari minyak acuan Dubai dan Oman yang sempat melampaui 160 dollar AS per barrel pada akhir Maret 2026. Lonjakan ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap gangguan di jalur pelayaran penting Timur Tengah.

Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI diperkirakan masih bergerak liar dalam rentang 75 dollar AS hingga lebih dari 110 dollar AS per barrel sepanjang bulan ini. Rentang yang lebar itu menunjukkan bahwa volatilitas pasar masih tinggi dan arah harga belum sepenuhnya stabil.

CEO Phillips 66 menilai kondisi pasokan saat ini sudah sangat ketat akibat gangguan pelayaran. Pandangan itu menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi pasar bukan sekadar kenaikan harga, tetapi juga keterbatasan pasokan yang mulai terasa di tingkat global.

Dampak keamanan ikut membesar

Gangguan energi di Timur Tengah juga memunculkan tekanan politik yang lebih luas. Kampanye militer Amerika Serikat di Iran menambah rumit keadaan dan membuat isu energi semakin sulit dipisahkan dari dinamika keamanan regional.

Situasi tersebut kemudian menjalar ke hubungan Washington dan Beijing karena gangguan pasokan membuka lapisan baru dalam persaingan dua kekuatan besar itu. Dalam kondisi seperti ini, pasar energi bergerak seiring perkembangan diplomasi dan keamanan, bukan hanya mengikuti perubahan permintaan dan produksi.

Presiden AS Donald Trump juga melontarkan kritik kepada negara-negara Eropa yang dinilai belum bertindak tegas terkait Selat Hormuz. Ia mendorong Eropa untuk mengambil langkah langsung, yang menunjukkan bahwa urusan energi kini juga menyangkut pembagian tanggung jawab keamanan di antara sekutu.

China dinilai mendapat ruang tambahan

Henrietta Levin dari Center for Strategic and International Studies menilai melemahnya posisi Amerika Serikat bisa membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruh global. Ia menyoroti bahwa Beijing ingin mitra-mitra utama AS meragukan apakah Washington benar-benar akan hadir dalam jangka panjang saat keadaan memburuk.

Levin juga mengaitkan komitmen AS di Eropa dengan daya tangkal di Asia. Menurutnya, ketika kepercayaan sekutu di Eropa melemah, dampaknya bisa langsung terasa pada stabilitas keamanan di kawasan Asia.

Pandangan serupa muncul dalam analisis Brookings Institution yang menilai fokus Amerika Serikat ke Timur Tengah memberi ruang lebih bagi Beijing. Dalam situasi itu, China dilaporkan meningkatkan aktivitas di sekitar Scarborough Shoal di Laut China Selatan, wilayah yang disengketakan.

Patricia Kim dari Brookings Institution menilai China tidak akan langsung bergerak ke Taiwan hanya karena perhatian AS sedang terbagi. Namun, ia menilai keterlibatan intensif Washington di Timur Tengah tetap dapat menguras sumber daya dan perhatian Amerika di kawasan lain.

Upaya menjaga hubungan masih berjalan

Di tengah ketegangan yang meluas, para analis tetap melihat adanya upaya menjaga hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan China. Patricia Kim menyebut kedua pihak tampaknya ingin mempertahankan stabilitas hubungan dan memperpanjang gencatan perdagangan menjelang pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan pada pertengahan Mei 2026.

Pada saat yang sama, Trump menunjukkan nada yang lebih optimistis dalam pernyataannya, meski tetap menegaskan kekuatan militer AS. Sinyal ini memperlihatkan bahwa pasar masih harus menghadapi kombinasi antara tekanan harga minyak, gangguan jalur pasokan Timur Tengah, dan rivalitas geopolitik yang terus bergerak bersamaan.

Baca Juga

Back to top button