Forum 12 provinsi anggota Mitra Praja Utama menempatkan jaring pasok pangan sebagai isu mendesak di tengah tekanan perubahan iklim. Di Semarang, pembahasan itu diarahkan bukan hanya pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada kepastian distribusi dan serapan hasil panen antardaerah.
Bagi Jawa Tengah, kolaborasi semacam ini dipandang sebagai cara untuk menjaga pasar petani tetap terbuka. Skema tersebut juga diharapkan membuat kebutuhan pangan di wilayah anggota tetap aman meski sektor pertanian menghadapi tekanan cuaca yang makin sulit diprediksi.
Pertemuan itu berlangsung dalam Business Meeting Forum Mitra Praja Utama 2026 di Hotel Tentrem, Kota Semarang. Forum bertema “Sinergi Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan sebagai Strategi Mitigasi Dampak Perubahan Iklim” tersebut mempertemukan Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno menilai pola kerja sama antardaerah penting agar hasil pertanian dari satu provinsi tidak berhenti di wilayah produksi. Menurut dia, forum seperti ini dapat memetakan daerah yang memiliki komoditas tertentu dan daerah lain yang membutuhkan, sehingga jalur penyerapan produk anggota Mitra Praja Utama menjadi lebih jelas.
Dengan pola itu, setiap daerah diarahkan saling melengkapi sesuai potensi unggulannya. Jawa Tengah melihat hubungan antardaerah sebagai paket solusi yang menghubungkan pasokan, distribusi, dan kepastian pasar dalam satu jaringan kerja yang lebih teratur.
Tekanan cuaca dan tantangan produksi
Kebutuhan akan kerja sama itu makin relevan karena tantangan pangan tidak lagi berdiri sendiri. Sumarno menegaskan perubahan iklim telah mengubah pola cuaca dan pola tanam, sementara potensi kemarau panjang tahun ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada sektor pertanian di banyak daerah.
Di luar faktor iklim, pertanian masih berhadapan dengan alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan, dan menurunnya minat generasi muda. Jawa Tengah pun terus mendorong inovasi agar sektor ini lebih menarik bagi kalangan milenial.
Karena itu, Sumarno berharap forum tidak berhenti pada pertemuan seremonial. Ia ingin sinergi antardaerah benar-benar diterjemahkan menjadi penguatan rantai pasok, konektivitas yang lebih baik, serta peluang investasi dan kerja sama usaha.
Dorongan agar lahir kerja nyata
Dari sisi kelembagaan, Direktur Eksekutif FKD MPU Suhajar Diantoro menilai forum ini merupakan bentuk kolaborasi nyata untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan bersama. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Zulfikri Armada, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas penyelenggaraan forum tersebut.
Suhajar berharap pertemuan itu menjadi ruang interaksi yang menghasilkan aksi nyata, bukan sekadar tempat bertemu. Ia juga mendorong lahirnya kesepakatan bisnis dan kontrak kerja sama yang berkelanjutan di antara provinsi anggota.
Dengan komposisi 12 provinsi dan fokus pada sinergi pangan serta energi berkelanjutan, forum Mitra Praja Utama menempatkan kerja sama regional sebagai jawaban atas tekanan iklim, produksi, dan distribusi. Bagi Jawa Tengah, langkah itu dipandang sebagai upaya membangun jaminan pasok yang lebih stabil di tengah ketidakpastian sektor pangan.
Source: rri.co.id




