Ketegangan antara pemerintah Argentina dan kalangan pers kembali meningkat setelah akses jurnalis ke Casa Rosada dibatasi. Situasi ini muncul di tengah tuduhan spionase ilegal yang berawal dari tayangan televisi lokal berisi rekaman dari dalam kompleks kepresidenan dengan bantuan smart glasses.
Langkah pembatasan tersebut langsung berdampak pada jurnalis yang biasa meliput dari pusat pemerintahan. Salah satunya adalah reporter Reuters yang disebut tidak dapat masuk ke Casa Rosada pada Kamis pagi, sehingga memunculkan pertanyaan baru tentang ruang kerja media di lingkungan kepresidenan.
Pemicu utamanya datang dari laporan stasiun televisi TN yang menayangkan cuplikan dari dalam Casa Rosada. Dalam laporan itu, rekaman disebut berasal dari smart glasses, yaitu kacamata pintar yang dilengkapi teknologi komputer.
Sesudah laporan itu tayang, Direktur Komunikasi Javier Lanari mengumumkan pencabutan akses sidik jari bagi jurnalis melalui X. Ia menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pencegahan setelah ada keluhan keamanan, sekaligus menegaskan bahwa keputusan itu ditujukan untuk menjaga keamanan nasional.
Respons pemerintah kemudian semakin tajam ketika Presiden Javier Milei mengunggah foto dua jurnalis TN dan menyebut mereka “DISGUSTING TRASH” di media sosial. Dalam unggahan lain, Milei juga menuding pihak yang terlibat sebagai “criminals” dan melontarkan komentar keras terhadap jurnalis yang memegang kartu pers.
Di sisi lain, jurnalis terakreditasi yang selama ini bertugas di Casa Rosada menilai pembatasan itu tidak bisa dipandang semata sebagai urusan teknis. Mereka menyampaikan pernyataan bersama dan menyebut penutupan akses tanpa dasar yang jelas sebagai langkah yang tidak beralasan serta berpotensi menjadi serangan terbuka terhadap kebebasan pers.
Bagi mereka, pembatasan akses ke kantor kepresidenan dapat mengganggu kerja jurnalistik dan menghambat hak publik untuk mengetahui apa yang terjadi di pusat kekuasaan. Mereka menekankan bahwa akses fisik ke Casa Rosada bukan hanya soal prosedur keamanan, melainkan juga bagian dari transparansi pemerintahan.
Pemerintah, melalui pembatasan itu, menempatkan isu keamanan sebagai alasan utama. Namun bagi kalangan pers, kebijakan tersebut justru dinilai terlalu jauh karena membatasi ruang liput yang selama ini menjadi jalur penting untuk memantau aktivitas pemerintahan secara langsung.
Hubungan Javier Milei dengan media memang sudah lama tegang sejak ia menjabat pada Desember 2023. Benturan dengan wartawan kerap muncul, baik lewat media sosial maupun dalam wawancara, sehingga perhatian kelompok pembela kebebasan pers terus mengarah pada pola relasi tersebut.
Dalam konteks itu, keputusan menutup akses jurnalis ke Casa Rosada dipandang memperlebar jarak antara pemerintah dan pers. Sejumlah pengamat kebebasan media menilai hubungan keduanya sudah menurun tajam di bawah kepemimpinan Milei, dan langkah terbaru ini memperkuat kesan bahwa tensi politik dan liputan media belum menunjukkan tanda mereda.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana satu tayangan televisi dapat memicu dampak yang jauh lebih luas, dari tuduhan spionase hingga perdebatan tentang batas pengawasan dan kebebasan meliput. Di tengah polemik tersebut, akses jurnalis ke pusat pemerintahan tetap menjadi isu sensitif yang menyentuh langsung keamanan nasional dan hak publik atas informasi.





