Ajakan agar perempuan Jawa Tengah tidak sekadar mengenang Kartini, tetapi benar-benar menjalankan nilai perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari, mengemuka dalam talkshow Peringatan Hari Kartini 2026 di Museum RA Kartini, Kabupaten Rembang. Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menilai semangat Kartini masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi perempuan saat ini.
Dalam forum bertema “Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas” itu, Nawal menempatkan Kartini sebagai sosok yang jauh melampaui simbol emansipasi. Menurut dia, gagasan Kartini tetap hidup karena menyentuh kebutuhan perempuan masa kini, terutama dalam pendidikan, pembentukan karakter, dan keberanian mengambil peran di ruang sosial yang lebih luas.
Kartini tidak berhenti sebagai simbol
Nawal menegaskan bahwa warisan Kartini tidak layak dipahami hanya sebagai peringatan rutin setiap tahun. Baginya, Kartini adalah teladan yang sudah membuka jalan bagi perempuan agar lebih percaya diri, mandiri, dan aktif di ruang publik.
Ia juga menyoroti langkah Kartini mendirikan sekolah perempuan pertama di Semarang pada 1912 sebagai bukti nyata keberpihakan terhadap akses pendidikan. Pada masa itu, ruang gerak perempuan masih sangat terbatas, sehingga kehadiran sekolah tersebut menjadi tonggak penting dalam perjuangan perempuan.
Menurut Nawal, cara berpikir Kartini menunjukkan keluasan pandangan yang masih relevan hingga sekarang. “Kartini bisa berpikir melampaui zamannya. Kartini bisa memiliki visi-visi yang sampai sekarang ini relevan,” ujarnya seusai kegiatan.
Pendidikan perlu ditopang karakter dan spiritualitas
Bagi Nawal, pencapaian pendidikan tidak cukup jika tidak diiringi dengan karakter yang baik. Ia menilai perempuan perlu memiliki bekal keilmuan, akhlak, dan spiritualitas agar kehadirannya memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Ia menyinggung sisi religius Kartini sebagai bagian dari kedalaman gagasan yang dimilikinya. Kartini diketahui pernah belajar agama kepada Kiai Soleh Darat pada usia muda, dan dari lingkungan intelektual serta spiritual itu lahir dorongan yang ikut melatarbelakangi kitab tafsir Al-Qur’an berjudul Faidur Rahman.
Dari situ, Nawal melihat pentingnya menempatkan spiritualitas sebagai bagian dari pembentukan perempuan masa kini. “Kita perempuan itu bukan hanya berilmu, harus memiliki karakter yang baik. Seperti acara saat ini dengan tema integritas, perempuan juga perlu memiliki spiritualitas yang baik,” kata Nawal.
Perempuan diminta saling menjaga
Selain soal pendidikan dan pembentukan diri, Nawal juga mendorong perempuan untuk lebih peka terhadap persoalan yang dialami sesama perempuan. Ia menilai semangat Kartini harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk hadir melindungi dan memberdayakan perempuan lain.
Ia menyebut sejumlah isu yang masih perlu terus disuarakan, mulai dari kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, poligami, hingga perjuangan kesetaraan gender. Menurut dia, perjuangan perempuan tidak boleh berhenti pada kemajuan pribadi, tetapi juga harus menyentuh keselamatan dan martabat perempuan di sekitarnya.
“Maka, Kartini masa kini harus bisa menjadi pelindung perempuan sekitarnya, bisa memberdayagunakan perempuan sekitarnya seperti saat ini,” ujarnya.
Peran perempuan dalam pembangunan daerah
Nawal juga mengaitkan semangat Kartini dengan keterlibatan perempuan Jawa Tengah dalam pembangunan daerah. Ia menilai nilai keberanian, kemandirian, integritas, dan kepedulian sosial perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam seremonial peringatan.
Ajakan itu ia sampaikan dalam konteks peran perempuan Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Menurut dia, perempuan memiliki ruang untuk ikut mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing dalam berbagai upaya pembangunan.
Bagi Nawal, Kartini akan terus relevan selama perempuan menjadikannya pedoman hidup, bukan sekadar sosok yang dipuji dalam acara peringatan. Semangat yang diwariskan Kartini perlu terus tumbuh dalam keberanian, kemandirian, integritas, dan kepedulian sosial perempuan Jawa Tengah.
Source: elshinta.com




