Rupiah Melemah, Jatim Perketat Pasokan Pangan dan Turun Jaga Harga di Pasar

Di Jawa Timur, pelemahan rupiah tidak dibaca sekadar sebagai persoalan pasar валютa. Pemerintah provinsi memandang tekanan kurs itu sebagai sinyal yang dapat langsung merembet ke ongkos produksi, distribusi, dan harga kebutuhan harian di tingkat warga.

Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menilai dampak paling cepat akan dirasakan kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk peternak. Ia menyoroti keluhan peternak ayam petelur yang menghadapi lonjakan harga pakan, meski jagung di dalam negeri sebenarnya tersedia cukup banyak.

Tekanan kurs dan beban biaya di lapangan

Emil menjelaskan bahwa penguatan dolar AS ikut membuat sejumlah barang impor menjadi lebih mahal. Kenaikan itu terlihat pada suku cadang, peralatan elektronik, hingga kendaraan yang ikut terdorong naik di pasar.

Menurut dia, tekanan eksternal akan terasa semakin berat bila bersamaan dengan gangguan biaya logistik di dalam negeri. Karena itu, efisiensi logistik menjadi salah satu perhatian utama agar sektor riil tidak menanggung beban berlapis.

Pemprov Jatim menilai keadaan ini perlu diwaspadai sejak dini karena pelemahan rupiah bisa menjalar cepat dari pasar keuangan ke aktivitas ekonomi daerah. Dalam pandangan pemerintah provinsi, dampaknya tidak berhenti pada angka kurs, tetapi ikut memengaruhi biaya hidup masyarakat.

Pangan ditempatkan sebagai prioritas utama

Di tengah situasi tersebut, Pemprov Jatim memilih memusatkan perhatian pada sektor pangan. Emil menyebut pangan sebagai kunci untuk menghadapi dinamika global yang masih belum stabil, terlebih Jawa Timur merupakan salah satu produsen pangan.

Langkah yang disiapkan tidak hanya berhenti pada pengawasan dari jauh. Pemerintah provinsi akan turun langsung ke pasar-pasar tradisional untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok agar tidak bergerak liar.

Jika ditemukan kenaikan harga di lapangan, pemerintah daerah akan melakukan intervensi. Tujuannya agar harga komoditas tetap berada pada level normal sesuai patokan pemerintah, termasuk untuk beras dan komoditas penting lain.

Emil juga menyinggung aturan yang sempat diberlakukan agar kendaraan pengangkut logistik tetap memperoleh BBM dengan harga normal di SPBU. Kebijakan semacam ini dipandang penting agar jalur distribusi tidak ikut menambah tekanan pada harga di pasar.

Dari hulu ke hilir, produksi ikut dijaga

Selain menjaga harga di tingkat pasar, Pemprov Jatim juga mengawasi sisi produksi melalui Dinas Pertanian. Fokus utamanya ada pada masa tanam padi agar produksi dan stok beras di Jawa Timur tetap aman.

Emil menekankan bahwa upaya menahan inflasi tidak bisa ditumpukan pada pemerintah provinsi saja. Peran TPID dan Bank Indonesia juga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di daerah.

Meski begitu, pemerintah provinsi tetap memberi perhatian besar pada kelancaran masa tanam. Bagi Pemprov Jatim, produksi pertanian tidak boleh terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya masih bisa dicegah.

Di saat yang sama, ancaman bencana kekeringan juga ikut diwaspadai karena berpotensi menambah tekanan pada pasokan. Karena itu, Jatim berupaya menjaga rantai dari produksi, distribusi, sampai harga agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi beban harian bagi warga.

Source: surabaya.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button