Jason Castriota Hidupkan Lagi Aura Carrera GT, JC9 Hadir Sebagai One-Off V10 Manual

Warna Gulf Racing langsung membuat JC9 mudah dikenali, tetapi daya tarik terbesarnya justru ada pada cara mobil ini memadukan basis Porsche Carrera GT dengan pendekatan coachbuilt one-off. Proyek garapan Jason Castriota ini tampil sebagai mobil yang tidak sekadar eksotis, melainkan juga sarat konteks sejarah dan karakter analog yang semakin jarang ditemui.

JC9 hadir pada perayaan 50 tahun Miller Motorcars bertajuk “Legends” yang digelar pada 30–31 Mei 2026. Di tengah tren one-off, restomod ekstrem, dan hypercar berbasis donor chassis yang terus berkembang dalam 10–15 tahun terakhir, kehadiran mobil ini terasa sangat relevan.

Basis modern, tubuh baru

Walau bentuk luarnya dibuat ulang, JC9 tidak dibangun dari nol. Porsche Carrera GT dipakai sebagai donor chassis, sehingga paket dasar seperti crash structure, powertrain, suspensi, dan homologasi sudah tersedia dari mobil asalnya.

Dari sana, seluruh karakter visual dibentuk ulang dengan bodi serat karbon. Material ini memberi keuntungan pada bobot ringan, kekakuan struktur, dan kebebasan desain, sekaligus membuat JC9 tampil sangat berbeda dari Carrera GT standar.

Pendekatan coach-built juga membuat setiap detailnya dirancang khusus. Hasilnya adalah sebuah mobil yang tingkat eksklusivitasnya sangat tinggi dan jelas tidak dimaksudkan untuk produksi massal.

Napas balap era klasik

Arah desain JC9 tidak diambil dari supercar modern, melainkan dari era keemasan mobil balap sport prototype. Jason Castriota dan Miller Motorcars mengembangkan mobil ini selama bertahun-tahun dengan penghormatan terhadap dekade 1960-an hingga 1980-an.

Siluetnya membawa nuansa dramatis dan klasik, dengan rujukan yang mengarah ke mesin Group 6 era 1960-an serta Group 6 1969–1971. Karena itu, JC9 terasa seperti interpretasi modern atas mobil balap spesial dari masa lalu, bukan sekadar modifikasi berani atas mobil donor.

Pilihan warna Gulf Racing juga mempertegas identitas tersebut. Livery itu identik dengan Ford GT40 dan Porsche 917 pada era 1960-an hingga 1970-an, sehingga lapisan nostalgia mobil ini terasa semakin kuat.

Mesin V10 manual yang tetap dipertahankan

Di tengah banyaknya supercar baru yang beralih ke elektrifikasi dan transmisi otomatis, JC9 justru mempertahankan mesin V10 naturally aspirated. Mesin itu dipadukan dengan transmisi manual, kombinasi yang kini makin langka di dunia mobil performa tinggi.

Karakter kabinnya pun masih menyisakan aura Carrera GT. Artinya, JC9 tidak hanya membawa proporsi dan siluet donor, tetapi juga mempertahankan atmosfer mekanis yang menjadi bagian penting dari basis asalnya.

Bagi penggemar mobil performa, itulah salah satu nilai paling besar dari proyek ini. JC9 menawarkan sensasi analog yang semakin sulit ditemukan, tanpa kehilangan sentuhan eksotis dari sebuah one-off modern.

Jejak Castriota dan makna JC9

Nama JC9 juga punya arti yang langsung berkaitan dengan pembuatnya. Huruf “JC” merujuk pada inisial Jason Castriota, sedangkan angka “9” menandai bahwa ini adalah proyek otomotif kesembilan yang ia ciptakan sepanjang kariernya.

Castriota sendiri bukan sosok baru di dunia desain mobil eksotis. Ia pernah terlibat dalam Ferrari P4/5, Ferrari 599, Ferrari 612 Kappa, Maserati GranTurismo, Maserati Birdcage 75th, SSC Tuatara, Ford Mustang Mach-E, dan Bertone Mantide.

Kehadiran JC9 di acara Legends menambah daftar karya yang memperlihatkan bagaimana basis donor dan teknologi manufaktur modern membuka ruang baru bagi supercar ultra-eksklusif. Dalam format seperti ini, JC9 menjadi contoh jelas bahwa mobil performa tinggi masih bisa tampil sangat pribadi, historis, dan berbeda dari arus utama.

Source: www.bincangbincangmobil.com

Baca Juga

Back to top button