Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena Inggris memilih menempatkan kapabilitas militernya dalam posisi siaga, bukan langsung bergerak penuh. Fokusnya adalah pembersihan ranjau yang baru akan dijalankan setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar final.
Rencana itu menunjukkan London ingin menjaga opsi tetap terbuka jika kondisi di jalur laut paling sensitif di Timur Tengah mulai membaik. Di saat yang sama, gangguan di kawasan tersebut masih menekan pelayaran internasional dan menambah kekhawatiran terhadap arus energi global.
Ratusan pelaut Inggris kini berada dalam status siaga di Gibraltar, Semenanjung Iberia, bersama kapal RFA Lyme Bay. Pengerahan penuh baru akan dilakukan setelah proses damai dinyatakan selesai.
Dari Gibraltar, RFA Lyme Bay disebut akan bergerak untuk bergabung dengan kapal perusak Inggris HMS Dragon. Keduanya juga akan berlayar bersama sejumlah kapal sekutu yang disiapkan memberi dukungan udara sebelum melanjutkan perjalanan menuju Teluk Persia melalui Terusan Suez.
Susunan itu menegaskan bahwa peran Inggris lebih diarahkan sebagai pendukung keamanan jalur laut. Tujuannya adalah membuka ruang bagi operasi pembersihan ranjau agar dapat dilakukan dengan aman di perairan yang rawan gangguan.
Skala masalah di Hormuz juga terlihat dari data yang disampaikan Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns. Ia mengatakan sedikitnya 6.000 kapal telah terhambat melintasi Selat Hormuz sejak konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran memanas.
Gangguan di jalur sempit itu langsung memengaruhi kapal niaga dan distribusi minyak. Karena itu, banyak negara terus mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran dengan sangat hati-hati.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menekan negara-negara sekutu Eropa agar memberi dukungan yang lebih besar terhadap upaya perang AS di Iran. Ia menyinggung blokade Selat Hormuz yang dinilai mengganggu pelayaran internasional dan mendorong kenaikan harga energi.
Pada Maret lalu, Trump bahkan memperingatkan sekutu NATO agar mulai mengamankan pasokan minyak dan jalur pelayaran mereka sendiri tanpa bergantung pada Washington. Pernyataan itu menambah tekanan politik di tengah risiko keamanan yang terus membesar di kawasan.
Pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan setelah pembicaraan dengan Israel dan sejumlah sekutu di Timur Tengah. Menurut dia, tahap berikutnya tinggal menunggu finalisasi.
Selama status itu belum berubah menjadi aman, Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan yang diawasi ketat. Bagi Inggris, kesiapan kapal perang dan kapal pendukung di sekitar jalur itu menjadi langkah untuk memastikan operasi pembersihan ranjau bisa segera dijalankan begitu kondisi memungkinkan.
Source: www.beritasatu.com




