Di tengah derasnya aktivitas digital, bahaya siber kini makin sering datang lewat hal yang terlihat biasa. Pengguna tidak hanya diserang lewat sistem, tetapi juga lewat kebiasaan cepat percaya pada tautan, nomor kontak, dan informasi yang belum diverifikasi.
Pola ini membuat verifikasi menjadi langkah paling penting sebelum membuka layanan digital atau menghubungi pusat bantuan. Satu cek sederhana terhadap domain, nomor, atau kanal resmi dapat menentukan apakah akses tetap aman atau justru jatuh ke tangan pelaku penipuan.
Modus yang menargetkan kelengahan pengguna
Banyak pelaku siber tidak lagi mengandalkan cara teknis yang rumit. Mereka memilih jalur yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna agar menyerahkan akses akun, kode OTP, atau data pribadi melalui tautan dan nomor palsu.
Salah satu cara yang sering dipakai adalah menyalahgunakan mesin pencari. Dari sana, korban bisa diarahkan ke nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, atau tautan berbahaya yang dibuat menyerupai kanal resmi perusahaan.
Masalahnya, hasil pencarian yang muncul di posisi teratas sering dianggap paling benar. Padahal, posisi tersebut tidak otomatis membuktikan nomor, situs, atau tautan itu resmi.
Social engineering makin dominan
Pola serangan seperti ini masuk dalam social engineering, yaitu upaya menipu pengguna agar mengambil keputusan cepat tanpa sempat memeriksa ulang. Teknik tersebut efektif karena yang disasar bukan hanya sistem, tetapi juga rasa percaya dan kebiasaan sehari-hari.
Tiger Research mencatat social engineering menyumbang 74,7 persen dari total kerugian akibat kejahatan siber di industri Web3 pada kuartal pertama 2026. Angka itu naik dari 64,3 persen pada 2025, menunjukkan ancaman ini justru semakin dominan.
Bentuknya pun beragam, mulai dari phishing, layanan pelanggan palsu, situs dan nomor telepon palsu, hingga tautan berbahaya yang meniru kanal resmi. Semua itu dirancang untuk memancing korban memberi data tanpa sadar.
Risiko nyata di Indonesia
Tekanan ancaman siber juga terasa di Indonesia. Badan Siber dan Sandi Negara mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, atau naik tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020-2024.
Dampaknya tidak berhenti pada serangan teknis. Otoritas Jasa Keuangan bersama Indonesia Anti-Scam Centre mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026.
Data tersebut memperlihatkan bahwa penipuan digital sudah menjadi persoalan yang langsung menyentuh pengguna. Karena itu, kehati-hatian saat membuka tautan atau mencari kontak bantuan menjadi kebutuhan, bukan sekadar saran tambahan.
Edukasi dan kanal resmi jadi benteng awal
Merespons kondisi itu, Indodax memperkuat edukasi keamanan digital lewat kampanye anti-phishing. Fokusnya adalah mendorong masyarakat lebih kritis sebelum percaya pada informasi di internet atau saat hendak menghubungi layanan pelanggan.
Ada tiga kebiasaan sederhana yang ditekankan. Pertama, periksa alamat domain situs yang dibuka dan pastikan berasal dari kanal resmi. Kedua, jangan langsung percaya pada nomor telepon atau tautan yang muncul di hasil pencarian tanpa verifikasi. Ketiga, gunakan kanal bantuan resmi yang tersedia di aplikasi atau situs resmi ketika membutuhkan informasi terkait akun.
Indodax juga menyiapkan layanan bantuan resmi yang tersedia 24 jam melalui email, Live Chat Help Center, call center, dan media sosial resmi perusahaan. Langkah ini ditujukan agar member memiliki akses langsung ke informasi yang valid, akurat, dan terpercaya.
Jika muncul indikasi penipuan digital yang mengatasnamakan Indodax, verifikasi dan pelaporan dapat dilakukan melalui Live Chat Help Center di website resmi Indodax. Masyarakat juga bisa menghubungi layanan pelanggan resmi Indodax di (021) 5065 8888 atau layanan Indodax Prioritas di (021) 5036 8888.
Source: www.medcom.id




