Ketegangan di Teluk kini bukan hanya soal menjaga gencatan senjata tetap hidup, tetapi juga soal mencegah satu insiden kecil berubah menjadi bentrokan yang lebih luas. Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif, karena jalur sempit itu masih memegang peran besar dalam arus energi dunia dan sekaligus berada di bawah bayang-bayang aksi militer yang saling balas.
Situasi di lapangan memperlihatkan bahwa jeda perang belum menghasilkan kepastian. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Iran masih sama-sama bergerak di bawah tekanan militer dan diplomatik, sementara di sisi lain bentrokan sporadis masih muncul di area yang paling rawan di kawasan itu.
Hormuz tetap menjadi titik paling panas
Pada Jumat, kantor berita semi-resmi Fars melaporkan masih terjadi bentrokan sporadis antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat di Selat Hormuz. Tasnim kemudian mengutip sumber militer Iran yang menyebut suasana telah mereda, tetapi ruang untuk bentrokan susulan belum tertutup.
Militer AS mengatakan pihaknya menyerang dua kapal yang terkait Iran ketika keduanya mencoba memasuki pelabuhan Iran. Seorang jet tempur AS disebut menghantam cerobong asap kapal itu dan memaksa keduanya berbalik arah.
Tehran sejak awal perang telah membatasi secara luas pelayaran non-Iran di selat tersebut. Sebelum konflik meletus, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur sempit itu, sehingga setiap gangguan di sana langsung memicu kekhawatiran yang lebih besar.
Gencatan senjata masih ada, tetapi saling tuduh terus berlanjut
Trump pada Kamis mengatakan gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April masih bertahan meski ada ledakan kekerasan. Iran justru menuduh AS melanggar kesepakatan itu, sehingga masing-masing pihak tetap mempertahankan narasi yang saling bertolak belakang.
Washington masih menunggu respons Iran atas usulan AS yang akan secara resmi mengakhiri perang sebelum pembicaraan masuk ke isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Di Roma pada Jumat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS memperkirakan jawaban datang hari itu, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Tehran masih mempertimbangkan usulan tersebut.
Di tengah situasi itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Jumat menuduh AS memilih “petualangan militer yang sembrono” setiap kali solusi diplomatik tersedia. Pernyataan itu menunjukkan jalur diplomasi masih terbuka, tetapi dibayangi ketegangan yang belum turun.
Perang ikut merembet ke Uni Emirat Arab
Eskalasi tidak berhenti di perairan Hormuz. Uni Emirat Arab mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi dua rudal balistik dan tiga drone dari Iran pada Jumat, dan tiga orang mengalami luka sedang.
Serangan itu menambah kekhawatiran bahwa perang tidak lagi terbatas pada jalur laut strategis, tetapi juga menjalar ke negara-negara Teluk lain yang berada dekat dengan kepentingan militer Amerika Serikat. UEA sebelumnya berulang kali menjadi sasaran, bersama negara-negara Teluk lain yang menampung pangkalan militer AS.
Pemerintah UEA menyebut gelombang serangan pekan ini sebagai eskalasi besar. Penilaian itu muncul setelah Iran meningkatkan serangan sebagai respons atas pengumuman Trump mengenai “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal di selat itu, yang kemudian dihentikan setelah 48 jam.
Tekanan ekonomi dan sanksi masih dipakai Washington
Selain operasi militer, Washington juga terus menekan Iran lewat jalur ekonomi. Departemen Keuangan AS pada Jumat menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan, termasuk sejumlah entitas di China dan Hong Kong, karena membantu upaya militer Iran memperoleh senjata dan bahan baku untuk drone Shahed.
Departemen Keuangan AS juga menyatakan siap bertindak terhadap perusahaan asing mana pun yang mendukung perdagangan ilegal Iran. Lembaga itu membuka peluang sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing, termasuk yang terkait dengan kilang minyak independen di China.
Sementara itu, laporan intelijen AS menyebut Iran dapat bertahan menghadapi blokade laut selama berbulan-bulan. Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui hal itu, penilaian CIA menunjukkan Iran tidak akan menanggung tekanan ekonomi berat dari blokade pelabuhan Iran oleh AS selama sekitar empat bulan lagi.
Seorang pejabat intelijen senior membantah klaim tentang analisis CIA tersebut dan menyebut informasi itu palsu. Informasi mengenai penilaian itu pertama kali dilaporkan Washington Post, sementara di Washington sendiri AS tampak belum mendapat banyak dukungan internasional untuk langkah-langkahnya.
Setelah bertemu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Rubio mempertanyakan mengapa Italia dan sekutu lain tidak mendukung upaya Washington untuk membuka kembali selat tersebut. Pertanyaan itu memperlihatkan bahwa selain menghadapi Iran, AS juga harus meyakinkan mitra-mitranya di tengah konflik yang masih jauh dari selesai.





