Harga Ekspor Mengangkat Nilai Minyak Kelapa, Meski Pengiriman Indonesia Justru Menyusut 18 Persen

Minyak kelapa Indonesia masih punya ruang besar di pasar dunia, tetapi jalurnya tidak sedang mulus. Di satu sisi, nilai ekspor komoditas ini naik lebih dari 43 persen sepanjang 2025, namun di sisi lain volume pengirimannya justru turun sekitar 18 persen.

Pola yang berlawanan itu menunjukkan bahwa harga ekspor menjadi penopang utama kinerja perdagangan minyak kelapa. Di tengah pasokan global yang ketat dan produksi yang bergejolak, Indonesia tetap mempertahankan posisinya sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia dengan pangsa sekitar 22 persen untuk minyak kelapa mentah maupun minyak kelapa dimurnikan.

Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menilai kenaikan nilai ekspor terutama datang dari kenaikan harga di pasar ekspor. Sementara itu, pelemahan volume terjadi karena pasokan bahan baku terbatas dan pasokan domestik ikut menurun.

Rini juga menyoroti dampak El Niño yang membuat sebagian pabrik mengurangi kapasitas produksi sementara. Tekanan dari sisi hulu itu menahan pengiriman, tetapi sekaligus mendorong nilai transaksi ekspor naik.

Di pasar dunia, posisi Indonesia masih berada di bawah Filipina yang menguasai sekitar 49 persen pasar ekspor global. Belanda menempati urutan ketiga dengan pangsa sekitar 10 persen.

Pasar tujuan makin tersebar

Kekuatan minyak kelapa dimurnikan Indonesia tidak hanya bertumpu pada volume, tetapi juga pada sebaran pasar yang luas. Produk ini sudah masuk ke lebih dari 90 negara tujuan, sehingga ketergantungan pada satu pasar bisa ditekan.

Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat menjadi pasar utama ekspor minyak kelapa Indonesia. Di luar pasar tradisional itu, peluang ekspansi masih terbuka di Eropa dan sejumlah kawasan non-tradisional lain.

Permintaan global terhadap minyak kelapa murni juga terus bergerak naik. Tren gaya hidup sehat dan meningkatnya penggunaan bahan alami di sektor pangan, kosmetik, dan kesehatan ikut memperluas kebutuhan dunia terhadap produk ini.

Indonesia memiliki modal penting karena termasuk salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Posisi itu membuka ruang penetrasi yang lebih luas ke pasar yang semakin memperhatikan produk berbasis keberlanjutan, termasuk Uni Eropa.

Prospek masih ada, tetapi pasokan perlu dijaga

Meski harga dan pasokan sempat bergejolak, minyak kelapa tetap dipandang sebagai komoditas ekspor yang menarik. Kebutuhan global masih memberi ruang pertumbuhan bagi Indonesia, terutama ketika pasar terus mencari sumber pasokan yang stabil.

IEB Institute memperkirakan nilai ekspor minyak kelapa Indonesia tumbuh moderat sekitar 9 persen pada 2026. Proyeksi itu didorong oleh pemulihan produksi dari negara pesaing seperti Filipina dan penyesuaian harga kelapa yang diperkirakan kembali normal.

Namun, tantangan dari sisi bahan baku belum selesai. Produksi kelapa nasional masih tertekan oleh penuaan pohon, rendahnya produktivitas pekebun kecil, dampak cuaca ekstrem, serta meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.

Tekanan itu membuat stabilitas pasokan menjadi isu penting bagi industri pengolahan. Tanpa perbaikan di tingkat kebun, kenaikan nilai ekspor berisiko tidak diikuti penguatan volume secara berkelanjutan.

Pemerintah telah menjalankan program peremajaan kebun kelapa dengan realisasi sekitar 44.900 hektar pada 2024. Program itu ditargetkan meluas hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027 untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga pasokan industri dalam negeri.

Selain peremajaan kebun, penguatan hilirisasi juga dianggap penting untuk menjaga daya saing. Pengembangan industri pengolahan bernilai tambah diharapkan bisa memperbesar pemanfaatan bahan baku domestik dan mendorong ekspor produk kelapa dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Rini menilai peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan. Dengan fondasi itu, minyak kelapa masih berpeluang mempertahankan perannya sebagai komoditas berkelanjutan yang menopang ekspor nasional.

Source: finansial.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button