Kembalinya Friendster menarik perhatian bukan hanya karena faktor nostalgia, tetapi juga karena arah baru yang diambilnya terasa berlawanan dengan wajah media sosial saat ini. Di saat banyak platform dipenuhi iklan dan sistem algoritma yang terus mendorong konten tertentu, Friendster justru hadir lagi dengan janji sederhana: lebih privat, lebih langsung, dan lebih tenang.
Versi barunya diluncurkan kembali pada April 2026 oleh programmer asal Philadelphia, Mike Carson. Ia menghadirkan Friendster dalam bentuk aplikasi iOS yang tidak menampilkan iklan dan tidak mengandalkan manipulasi algoritma, serta ditujukan untuk pengguna berusia 13 tahun ke atas.
Nama lama yang pernah besar
Sebelum menghilang, Friendster pernah menjadi salah satu nama penting dalam sejarah awal jejaring sosial. Platform ini didirikan Jonathan Abrams pada 2002 dan resmi diluncurkan pada Maret 2003.
Pada masa itu, Friendster memberi pengguna ruang untuk membuat profil, terhubung dengan teman, serta berbagi foto, tautan, dan minat pribadi. Layanannya juga sempat dipakai untuk mengatur acara, mencari pasangan, sampai menemukan komunitas musik dan kelompok dengan minat tertentu.
Popularitasnya melonjak cepat. Dalam waktu singkat setelah peluncuran, jumlah pengguna naik dari ratusan menjadi jutaan, dan pada awal 2003 sudah melampaui 3 juta pengguna.
Pernah dilirik perusahaan besar
Pertumbuhan cepat Friendster membuat perusahaan teknologi besar ikut meliriknya. Google sempat mengajukan tawaran akuisisi senilai US$ 30 juta pada 2003, tetapi tawaran itu tidak diterima.
Sebagai gantinya, Friendster memilih pendanaan dari Kleiner Perkins Caufield & Byers senilai US$ 13 juta. Keputusan tersebut ikut mengubah arah kepemimpinan perusahaan, karena Jonathan Abrams kemudian digantikan dan posisi CEO sempat diisi Tim Koogle, mantan eksekutif Yahoo.
Pada masa jayanya, Friendster mencatat lebih dari 115 juta pengguna terdaftar. Platform ini juga sempat memiliki valuasi sekitar US$ 53 juta pada 2003.
Menguat di Asia, lalu kalah bersaing
Meski sempat besar, pamor Friendster di Amerika Serikat perlahan meredup. Layanan ini justru bertahan lebih kuat di kawasan Asia-Pasifik, terutama Asia Tenggara.
Masalah teknis ikut mempercepat penurunannya. Bug dan keterbatasan sistem membuat layanan terasa kurang stabil ketika jumlah pengguna terus bertambah.
Di saat yang sama, persaingan makin ketat setelah Facebook dan MySpace hadir dengan pembaruan yang lebih menarik. Banyak pengguna kemudian pindah ke platform lain yang dinilai lebih nyaman dan konsisten, sementara Friendster lebih fokus mengejar pertumbuhan daripada memperbaiki sistem.
Dari jejaring sosial ke penutupan layanan
Pada 2009, Friendster diakuisisi MOL Global, perusahaan layanan internet asal Malaysia, dengan nilai sekitar US$ 26,4 juta. Setelah akuisisi, arah layanan lebih banyak difokuskan ke pengguna di Asia.
Langkah itu tidak cukup untuk mengembalikan Friendster sebagai media sosial utama. Pada 2010, platform ini mulai kehilangan relevansi dan menghentikan fungsi jejaring sosialnya.
Setahun kemudian, Friendster berubah menjadi platform permainan sosial. Dalam proses itu, berbagai data pengguna seperti foto dan konten lain ikut dihapus, meski akun masih sempat bertahan untuk sementara.
Pada 31 Mei 2011, Friendster menghapus seluruh konten pengguna, termasuk foto, komentar, blog, dan grup. Friendster kemudian resmi ditutup pada 14 Juni 2015, sehingga situs dan layanannya tidak lagi dapat diakses seperti dulu.
Bangkit lagi tanpa jejak lama pengguna
Saat dihidupkan kembali, Friendster tidak membawa kembali akun lama. Banyak pengguna lama masih mencari cara membuka akun mereka, tetapi tidak tersedia fitur resmi untuk mencari atau memulihkan akun yang pernah ada.
Hal itu berkaitan dengan penghapusan total konten pengguna yang sudah dilakukan sejak 31 Mei 2011. Sebelum penghapusan penuh, pengguna sempat diberi kesempatan mengekspor data mereka melalui Friendster Exporter.
Untuk proyek kebangkitan ini, Carson mengakuisisi domain Friendster.com beserta hak merek dagangnya. Kesepakatan itu bernilai sekitar US$ 30.000, dengan rincian ia membayar US$ 20.000 dalam bentuk Bitcoin dan menukar sebuah domain yang menghasilkan sekitar US$ 9.000 per tahun dari pendapatan iklan.
Dalam blog pribadinya, Carson menyampaikan keinginan membangun ruang digital yang lebih positif. Ia menilai jejaring sosial saat ini banyak memicu hal negatif, sementara Friendster dulu memberi pengalaman yang menyenangkan.
Karena tidak ada jalur resmi untuk pemulihan akun, pengguna yang ingin mencoba Friendster versi baru harus membuat akun baru. Dengan begitu, Friendster yang kembali hadir kini berdiri sebagai merek lama yang dibangun ulang, bukan kelanjutan langsung dari layanan sosial yang dulu pernah populer.
Source: www.beritasatu.com




