Diare Berkepanjangan Bisa Menyembunyikan IBD, Ancaman Tersembunyi di Usia Produktif dan Risiko Kanker Usus

Di balik keluhan yang kerap dianggap sepele, peradangan usus kronis seperti Inflammatory Bowel Disease atau IBD menyimpan risiko yang jauh lebih serius. Saat sakit perut, diare, atau BAB berdarah tidak juga membaik, kondisi itu tidak lagi pantas dipandang sekadar akibat salah makan atau infeksi ringan.

IBD perlu diwaspadai karena dapat menyerang usia produktif dan, bila terlambat terdeteksi, memicu komplikasi berat. Dalam kondisi yang tidak terkelola dengan baik, penyakit ini juga disebut dapat berujung pada kanker usus besar.

IBD adalah peradangan kronis non-infeksi pada saluran cerna. Kondisi ini mencakup penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan unclassified IBD atau IBD-U.

Penyakit ini berbeda dari peradangan usus yang dipicu infeksi seperti TBC usus, amuba, atau HIV. Penyebabnya juga tidak tunggal karena melibatkan kerentanan genetik, gangguan mikrobiota usus, disregulasi sistem imun, faktor lingkungan, hingga pola makan.

Salah satu tantangan terbesar IBD adalah gejalanya sering menyerupai gangguan pencernaan biasa. Akibatnya, banyak pasien datang terlambat untuk memeriksakan diri, padahal keluhan awal bisa menjadi sinyal penyakit kronik.

Kelompok usia yang paling sering terdampak berada pada rentang 15–30 tahun. Artinya, IBD banyak muncul saat seseorang sedang kuliah, bekerja, atau membangun keluarga.

Situasi itu membuat dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan fisik. Produktivitas dan kualitas hidup juga bisa ikut terganggu jika gejala dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.

Di Indonesia, temuan kasus IBD juga menunjukkan tren kenaikan yang patut dicermati. Berdasarkan penelitian Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study atau ACCESS, insidensi IBD di Indonesia tercatat 0,77 per 100.000 penduduk per tahun.

Prof. Ari Fahrial Syam, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, menyebut peningkatan temuan kasus ikut dipengaruhi kemampuan diagnosis yang makin baik. Ia mengatakan kemampuan diagnostik di Indonesia terus meningkat sehingga lebih banyak kasus berhasil ditemukan.

Ia juga menyoroti dukungan pusat endoskopi saluran cerna yang bekerja sama dengan pemerintah Jepang. Alat itu membantu dokter menilai apakah keluhan pasien mengarah ke radang, tumor, atau kanker.

Selain endoskopi, pemeriksaan seperti intestinal ultrasound dan biomarker Fecal Calprotectin ikut membantu deteksi lebih cepat. Dua metode ini berguna saat gejala masih samar dan penanganan perlu dimulai sejak dini.

Deteksi awal menjadi penting karena tantangan di Indonesia masih besar. Kesadaran masyarakat terhadap gejala IBD belum tinggi, akses layanan belum merata, dan diagnosis yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi serta biaya pengobatan.

Meski begitu, layanan untuk pasien IBD di dalam negeri terus berkembang. RSCM Kencana telah mendirikan IBD Center sebagai pusat rujukan layanan terpadu untuk diagnosis, terapi, edukasi, dan pendampingan pasien.

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr. Renan Sukmawan, menyebut kualitas layanan medis di Indonesia terus berkembang. Ia menegaskan banyak layanan di Indonesia yang tidak kalah, bahkan mungkin lebih baik dari luar negeri.

Prof. Ari juga menyampaikan bahwa obat-obatan mutakhir seperti agen biologik kini sudah tersedia di Indonesia. Menurutnya, pasien tidak perlu lagi pergi ke Singapura atau negara lain untuk mendapatkan terapi tersebut.

Karena itu, gejala seperti BAB berdarah, diare berkepanjangan, dan penurunan berat badan seharusnya tidak diabaikan. Pemeriksaan sejak awal menjadi langkah penting agar IBD bisa dikenali lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button