Di Langit Cerah Sekalipun, Dua Pesawat Bisa Saling Tak Terlihat, Ini Penjelasan Mematikannya

Di langit yang tampak kosong, ancaman justru bisa paling sulit dikenali. Itulah pelajaran keras dari tabrakan dua pesawat di atas Grand Canyon yang menunjukkan bahwa pandangan manusia punya batas, bahkan saat cuaca terlihat sempurna.

Masalahnya bukan hanya soal jarak pandang, tetapi juga soal cara mata dan otak membaca gerak. Pesawat yang datang lurus ke arah kokpit bisa tampak hampir diam, padahal sebenarnya terus mendekat dengan cepat.

Fenomena itu dikenal sebagai constant bearing, decreasing range. Arah pesawat terlihat tetap, sementara jaraknya menyusut terus, sehingga pilot bisa terlambat menyadari bahwa objek di depannya adalah ancaman nyata.

Dalam penerbangan, pesawat yang bergerak melintas dari kiri ke kanan biasanya lebih mudah ditangkap mata. Sebaliknya, pesawat yang tampak seperti titik diam di langit justru lebih mudah terlewat, terutama ketika perhatian pilot sudah terbagi ke banyak hal lain.

FAA menyebut pilot membutuhkan 12,5 detik untuk melihat objek, mengenalinya sebagai pesawat, memahami ancamannya, memutuskan tindakan, bereaksi, lalu menunggu respons pesawat. Dalam kecepatan terbang tinggi, waktu sesingkat itu dapat menjadi celah yang terlalu sempit untuk menghindar.

Kokpit juga tidak pernah benar-benar bebas gangguan. Tiang jendela dapat menutup sebagian pandangan, awan dapat menyembunyikan pesawat sampai detik terakhir, dan pilot harus tetap memantau instrumen, radio, navigasi, cuaca, serta penumpang.

Kelemahan itu terlihat jelas dalam kecelakaan midair collision antara TWA Flight 2 dan United Airlines Flight 718 di atas Grand Canyon pada 30 Juni 1956. Seluruh 128 orang di kedua pesawat tewas, dan peristiwa itu lama disebut sebagai bencana terbesar dalam sejarah Amerika saat itu.

Kedua pesawat saat itu terbang di wilayah udara tak terkendali dan bergantung pada pemisahan visual. Setelah mendapat clearance awal, keduanya juga memilih rute off-airways yang lebih langsung menuju titik berikutnya daripada jalur maskapai yang sudah ditetapkan.

Pilihan itu menempatkan mereka di ruang udara yang tidak dipantau elektronik oleh pengendali lalu lintas udara. Meski begitu, mereka tetap harus berada dalam area yang bisa terlihat agar bisa menghindari pesawat lain yang mungkin ada di sekitar tanpa diketahui ATC.

Pada 10.13, kedua maskapai melaporkan posisi terbaru dan perkiraan rute kepada pengendali Salt Lake City. Keduanya diperkirakan tiba di Painted Desert line pada 10.31 di ketinggian 21.000 kaki.

Namun, pengendali Salt Lake City tidak diwajibkan meneruskan potensi konflik kepada pesawat. Saat itu, keduanya berada di wilayah udara tak terkendali dan terbang VFR, sehingga tanggung jawab utama tetap berada pada pilot untuk saling melihat dan menghindar.

Di situlah persoalan terbesar muncul. Sistem penerbangan pada masa itu belum dibangun untuk menutup kekurangan penglihatan manusia, sementara cakupan radar juga belum ada untuk menjadi lapisan perlindungan tambahan.

Tanpa aturan yang mewajibkan pengendali turun tangan, garis pertahanan terakhir hanya bergantung pada kemampuan pilot melihat satu sama lain di langit. Prinsip “lihat dan hindari” memang menjadi dasar, tetapi dalam praktiknya sangat rawan ketika dua pesawat bergerak saling mendekat.

Penyelidik keselamatan sudah lama menegaskan bahwa pilot tidak selalu bisa diharapkan melihat pesawat lain tepat waktu, bahkan dalam cuaca yang sempurna. Transportation Safety Board of Canada juga menyebut dua pesawat yang menuju titik yang sama dapat tampak seperti membeku di kaca depan masing-masing pilot, meski jaraknya terus menutup.

Karena itu, di udara, yang terlihat tenang belum tentu aman. Pada kasus Grand Canyon, tanda-tandanya sebenarnya ada, tetapi tidak ada sistem yang cukup kuat untuk mengubah tanda itu menjadi tindakan sebelum semuanya terlambat.

Baca Juga

Back to top button