Tekanan air bersih membuat banyak wilayah mencari sumber baru yang tidak bergantung pada jaringan konvensional. Di situ, hidrogeld bertenaga surya yang mampu menarik air dari udara kering lalu mengubahnya menjadi air minum aman mulai terlihat sebagai solusi yang menjanjikan.
Material ini dikembangkan oleh peneliti dari Stanford University dan MIT, dengan dukungan kerja sama dari Georgia Institute of Technology dan ETH Zurich. Fokusnya bukan hanya pada kemampuan menyerap kelembapan udara, tetapi juga pada daya tahannya saat dipakai di wilayah yang sangat gersang.
Dalam studi yang dimuat di Nature Communications, hidrogeld tersebut dibuat dari lithium chloride dan polyacrylamide. Tim peneliti kemudian menambahkan lapisan anti-korosi agar material tetap bisa menyerap kelembapan dari udara dan melepaskannya kembali sebagai air yang layak diminum.
Perbaikan itu menjadi penting karena sistem seperti ini harus terus bekerja di lingkungan yang keras. Versi baru yang diuji disebut jauh lebih kuat dibanding desain sebelumnya, sehingga dinilai lebih praktis dan berpotensi lebih murah untuk daerah yang menghadapi kekeringan berat.
Daya tahan yang meningkat juga menjadi pembeda utama. Setelah diuji dan disempurnakan, material itu mampu menangkap uap air untuk kebutuhan minum selama sekitar 190 siklus.
Dari sisi hasil, desain tersebut mampu menghasilkan sekitar dua liter air per hari. Jumlah itu secara teori cukup untuk kebutuhan darurat air satu orang, meski tim peneliti masih ingin meningkatkan kapasitasnya.
Target berikutnya adalah mendekati lima liter per hari. Peningkatan ini menjadi penting karena kebutuhan air bersih di banyak tempat tidak hanya tinggi, tetapi juga terus menuntut solusi yang stabil dalam jangka panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia menyebut satu dari empat orang di dunia belum memiliki akses andal ke air minum aman. Kondisi itu membuat teknologi pemanen air dari udara semakin relevan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh pasokan air konvensional.
Dr. Carlos Diaz-Marin, profesor di Stanford dan salah satu penulis utama, menyoroti bahwa banyak orang harus berjalan ratusan jam per tahun hanya untuk mendapatkan air. Ia juga mengingatkan bahwa tekanan pada pasokan air tidak hanya datang dari rumah tangga, tetapi juga dari industri yang sangat boros air.
Diaz-Marin menyebut manufaktur semikonduktor dan pusat data ikut menambah beban pada sistem air yang sudah terbatas. Menurutnya, teknologi ini berpotensi menjadi sumber daya air tambahan bagi berbagai kebutuhan yang terus berkembang.
Para peneliti menilai temuan ini sebagai langkah besar menuju produksi air berbiaya rendah. Di tengah kekeringan ekstrem yang masih terjadi di sejumlah wilayah, hidrogeld surya ini menawarkan cara berbeda untuk memperluas akses air minum aman tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber air tradisional.





