Cuaca Siang Makin Terik, Awal Kemarau Dan Angin Timuran Jadi Pemicu Utama

Siang hari yang terasa jauh lebih gerah belakangan ini bukan muncul tanpa sebab. Dari pembacaan BMKG, kondisi itu berkaitan dengan awal musim kemarau, tutupan awan yang makin minim, dan hembusan angin timuran dari Australia yang membawa udara kering.

Saat awan sulit terbentuk, radiasi matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi. Akibatnya, suhu udara cepat naik dan panas terasa lebih menyengat, terutama ketika matahari sedang berada pada posisi paling kuat di atas Indonesia.

Apa yang membuat suhu siang terasa lebih tinggi

Di awal musim kemarau, udara umumnya menjadi lebih kering. Situasi ini membuat pertumbuhan awan hujan melemah sehingga langit cenderung lebih cerah dan sinar matahari tidak banyak terhalang.

BMKG menjelaskan bahwa dominasi angin timuran dari Australia ikut memperkuat kondisi tersebut. Udara kering yang terbawa angin ini menurunkan peluang awan hujan berkembang, sehingga permukaan bumi menerima penyinaran yang lebih intens pada siang hari.

Faktor lain datang dari posisi semu matahari pada April yang masih berada dekat wilayah Indonesia bagian utara. Kondisi ini membuat penyinaran matahari terasa lebih kuat di banyak wilayah, tidak hanya di satu kawasan tertentu.

Panas terpantau meluas ke banyak daerah

Dampak cuaca terik ini terlihat dari data suhu maksimum harian BMKG pada Senin (27/4/2026). Sejumlah daerah mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius, menandakan panas menyengat tidak terjadi secara terpisah, melainkan meluas di berbagai wilayah.

Medan mencatat 36,8 derajat Celsius, disusul Aceh Utara 36,6 derajat Celsius, Ciputat 36,2 derajat Celsius, dan Deli Serdang 36,0 derajat Celsius. Suhu tinggi juga tercatat di Palu 35,9 derajat Celsius, Lampung Utara 35,6 derajat Celsius, dan Serang 35,6 derajat Celsius.

Selain itu, Curug mencapai 35,5 derajat Celsius. Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur dan Cirebon sama-sama mencatat 35,0 derajat Celsius, memperlihatkan bahwa udara panas dirasakan di wilayah utara maupun selatan Indonesia.

Mengapa cuaca panas tidak selalu seragam

Meski siang hari terasa terik, kondisi cuaca tropis Indonesia tetap berubah-ubah. BMKG mengingatkan bahwa Madden-Julian Oscillation atau MJO dan gelombang ekuator masih dapat memicu pertumbuhan awan tebal serta hujan dengan intensitas signifikan di beberapa daerah.

Artinya, panas yang terasa di satu wilayah tidak selalu diikuti langit cerah di semua tempat. Pada masa peralihan seperti ini, ada daerah yang masih menerima hujan, sementara daerah lain mengalami suhu jauh lebih tinggi pada waktu yang sama.

Kapan intensitas panas mulai berkurang

BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia mulai April 2026, dengan sekitar 7 persen Zona Musim sudah masuk musim kemarau. Jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau diperkirakan terus bertambah signifikan pada April hingga Juni 2026.

Secara klimatologis, puncak suhu panas diperkirakan terjadi pada Mei 2026. Namun, suhu tinggi masih berpotensi bertahan sepanjang musim kemarau karena tutupan awan tetap minim di banyak wilayah.

Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan jatuh pada Agustus–September 2026. Selama periode itu berlangsung, siang hari masih berpeluang terasa sangat panas, terutama ketika paparan matahari mencapai kekuatan maksimumnya.

Source: jatim.tribunnews.com

Baca Juga

Back to top button