Aksi Asing Menata Ulang Portofolio Menekan IHSG Tipis, Rupiah Ikut Jadi Beban

Tekanan di pasar saham belum cukup kuat untuk mengguncang perdagangan hingga jauh lebih dalam. Meski investor asing dan pelaku pasar tengah menata ulang portofolio setelah perubahan komposisi indeks MSCI periode Mei 2026, IHSG hanya terkoreksi tipis pada penutupan perdagangan Jumat.

Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu turun 2,81 poin atau 0,05% ke level 6.127,38. Di saat yang sama, LQ45 ikut melemah 9,23 poin atau 1,49% ke posisi 611,17.

Aktivitas transaksi justru tetap ramai sepanjang sesi. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp49,94 triliun dengan volume 46,96 miliar lembar saham, sementara frekuensi transaksi menyentuh 2.377.054 kali.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pergerakan itu muncul sebagai dampak langsung dari rebalancing MSCI yang mulai berlaku setelah penutupan perdagangan hari ini. Menurut dia, pasar sudah lebih dulu membaca arah perubahan sehingga koreksi yang terjadi tidak sedalam yang sempat dikhawatirkan.

Ratna menilai kondisi tersebut menunjukkan proses penyesuaian portofolio memang berlangsung, tetapi tidak memicu kepanikan luas di pasar. Dengan demikian, tekanan pada IHSG tetap terbatas meski sentimen dari perubahan indeks global masih terasa.

Sektor Infrastruktur Menjadi Penahan

Di tengah pelemahan indeks utama, sejumlah sektor di indeks sektoral IDX-IC masih mampu bertahan di zona hijau. Sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan kenaikan 3,34%.

Penguatan juga datang dari sektor barang baku yang naik 3,08% dan energi yang menguat 2,65%. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi pemberat terbesar setelah turun 1,03%.

Tekanan lain terlihat pada sektor properti yang melemah 0,90% dan kesehatan yang turun 0,19%. Pergerakan ini membuat arah pasar masih terpecah meski indeks acuan bergerak turun tipis.

Perdagangan Saham Masih Campuran

Daftar saham yang menguat dipimpin oleh KJEN, BREN, RATU, PTRO, dan BRPT. Di sisi lain, saham APIC, ASPR, FILM, TALF, dan MGNA menjadi yang paling tertekan.

Kondisi pasar juga menunjukkan lebih banyak saham yang berada di bawah tekanan jual. Tercatat 271 saham menguat, 409 saham melemah, dan 137 saham stagnan.

Tekanan dari Luar Negeri dan Rupiah

Dari pasar global, bursa Asia bergerak bervariasi cenderung menguat mengikuti sektor teknologi di Wall Street. Nikkei naik 2,53% dan Hang Seng menguat 0,7%, tetapi pergerakan itu tetap dibayangi meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen domestik turut menambah beban. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.881 per dolar AS, yang menjadi posisi terendah dan ikut menekan sentimen pasar modal.

Kombinasi penataan ulang portofolio asing, rebalancing MSCI, dan pelemahan rupiah membuat IHSG bergerak hati-hati sepanjang perdagangan. Meski demikian, besarnya nilai transaksi menunjukkan pelaku pasar masih aktif menyesuaikan posisi di tengah perubahan komposisi indeks global tersebut.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button