Rencana kehadiran sekitar 40 ribu buruh asal Jawa Barat di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, pada peringatan Hari Buruh menjadi salah satu sorotan utama menjelang May Day. Mobilisasi besar ini tidak hanya menunjukkan kuatnya konsolidasi organisasi buruh, tetapi juga menegaskan bahwa ada keresahan serius yang dibawa para pekerja dari daerah ke pusat ibu kota.
Bagi buruh Jawa Barat, agenda di Monas dipakai untuk menyampaikan bahwa tekanan di sektor industri masih terasa nyata. Isu yang dibawa tidak berhenti pada peringatan seremonial, melainkan berisi peringatan soal PHK, turunnya daya beli, derasnya barang impor, dan lambatnya hilirisasi yang dinilai belum memberi dampak langsung bagi pekerja.
Tekanan Industri Masih Dirasakan Buruh
Tokoh buruh Jawa Barat Muhammad Sidarta menilai kondisi yang dihadapi pekerja belum bisa disebut aman. Ketua DPD FSP LEM SPSI Jawa Barat itu mengatakan ada jarak antara angka-angka ekonomi yang terlihat membaik dengan situasi riil di lapangan yang dirasakan buruh setiap hari.
Menurut Sidarta, banyak perusahaan masih menempuh langkah efisiensi dan pengurangan tenaga kerja. Ia menegaskan bahwa tekanan di dunia kerja tidak berhenti pada satu bentuk saja, karena buruh juga merasakan ketidakpastian dari jam kerja yang dipangkas, pendapatan yang menurun, hingga kontrak yang tidak diperpanjang.
“Kita tidak sedang baik-baik saja. Industri masih tertekan, pekerja cemas, daya beli turun,” ujarnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa May Day dipandang sebagai ruang untuk menyampaikan kondisi aktual industri, bukan sekadar perayaan tahunan. Dari sudut pandang serikat, gejala yang muncul di lapangan sudah cukup kuat untuk dijadikan peringatan bagi pemerintah.
PHK yang Tidak Selalu Terlihat Mencolok
Sorotan buruh Jawa Barat juga tertuju pada bentuk tekanan kerja yang kerap tidak muncul dalam skala besar, tetapi tetap berdampak luas. Pengurangan jam kerja, pemotongan penghasilan, dan tidak diperpanjangnya kontrak menjadi contoh situasi yang dinilai perlahan melemahkan stabilitas pekerja.
Bila pendapatan rumah tangga ikut jatuh, konsumsi masyarakat juga berisiko ikut turun. Dalam pandangan buruh, kondisi itu bisa merambat ke aktivitas ekonomi yang lebih luas dan pada akhirnya ikut memperlambat pemulihan industri.
Karena itu, mereka menilai pemerintah perlu membaca sinyal dari lapangan dengan lebih serius. Tekanan terhadap pekerja tidak selalu hadir dalam bentuk angka PHK massal, tetapi dampaknya tetap terasa pada kehidupan sehari-hari dan daya tahan sektor padat karya.
Barang Impor dan Hilirisasi Masuk Daftar Tuntutan
Selain soal PHK, persoalan pasar yang dinilai terlalu longgar terhadap barang impor juga menjadi perhatian utama. Buruh melihat produk luar negeri semakin mudah masuk ketika industri lokal masih berjuang mempertahankan produksi dan tenaga kerja.
Sidarta mempertanyakan posisi tenaga kerja lokal bila industri dalam negeri terus berada di bawah tekanan barang dari luar. Menurut dia, kebijakan yang tidak berpihak pada produksi nasional dapat mengurangi daya tahan sektor padat karya yang selama ini menyerap banyak pekerja.
Di saat yang sama, buruh juga mendorong hilirisasi yang benar-benar memberi manfaat bagi penyerapan tenaga kerja. Mereka menilai hilirisasi tidak cukup berhenti sebagai wacana, karena hasil nyatanya harus dirasakan oleh industri dan pekerja, bukan hanya terlihat baik di atas kertas.
Bawa Usulan Kebijakan ke Pemerintah
Dalam aksi Hari Buruh tersebut, SPSI Jawa Barat membawa sejumlah usulan kebijakan untuk pemerintah. Di antaranya revisi batas Penghasilan Tidak Kena Pajak atau PTKP, penguatan pengawasan ketenagakerjaan, dan pemberian insentif bagi industri padat karya.
Mereka juga menekankan pentingnya percepatan hilirisasi yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Buruh menilai pertumbuhan industri baru akan bermakna bila memberikan manfaat langsung bagi pekerja yang berada di dalamnya.
Momentum di Monas juga dipandang sebagai ruang dialog yang terbuka antara pemerintah dan buruh. Rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto dianggap penting agar aspirasi dari berbagai daerah bisa didengar langsung dan tidak berhenti sebagai catatan di atas kertas.
Dengan membawa isu PHK, impor, dan hilirisasi ke Jakarta, buruh Jawa Barat ingin menunjukkan bahwa tekanan terhadap industri belum mereda. Bagi mereka, May Day menjadi pengingat bahwa pekerja masih membutuhkan perhatian serius atas kondisi kerja dan masa depan sektor industri.
Source: mediaindonesia.com




