Upaya industri semen untuk mengurangi jejak emisi mulai bergerak ke arah yang lebih konkret lewat teknologi berbasis mikroalga. Semen Merah Putih kini menguji MP TREE, inovasi yang dijuluki pohon cair, di Plant Jatiasih sebagai proyek percontohan penyerapan karbon.
Langkah itu dijalankan bersama PT AlgaePark Indonesia Mandiri, perusahaan yang dikenal sebagai pionir bioteknologi mikroalga di Indonesia. Kolaborasi ini menandai pertemuan antara industri semen dan teknologi hijau yang mengandalkan fotobioreaktor mikroalga.
Semen Merah Putih dan AlgaePark telah resmi memulai kerja sama tersebut melalui penandatanganan memorandum of understanding. Lewat kerja sama ini, keduanya mengembangkan MP TREE sebagai bagian dari agenda keberlanjutan perusahaan.
Bagi Semen Merah Putih, inisiatif ini tidak berdiri sendiri. Perusahaan menempatkannya dalam strategi 4P yang mencakup Process, Product, People, dan Planet, sekaligus selaras dengan visi greenovation yang mereka dorong.
Fokus awal pengembangan MP TREE diarahkan ke pabrik Semen Merah Putih Plant Jatiasih. Lokasi ini dipilih agar prototipe dapat dipantau langsung saat bekerja di lingkungan industri yang sesungguhnya.
Di tahap tersebut, perusahaan akan menguji efektivitas fotobioreaktor mikroalga dalam menyerap karbon. Hasil pilot project itu nantinya menjadi basis data penting untuk pengembangan teknologi penyerapan polusi berbasis mikroalga di masa depan.
Ketertarikan pada MP TREE muncul karena industri semen dikenal memiliki intensitas emisi karbon yang tinggi. Karena itu, teknologi ini diposisikan sebagai salah satu upaya untuk menekan dampak lingkungan dari kegiatan operasional yang umum di sektor tersebut.
Penggunaan fotobioreaktor mikroalga juga membuat pendekatan ini berbeda dari inisiatif hijau pada umumnya. Teknologi itu menjadi inti dari MP TREE yang dikembangkan bersama AlgaePark sebagai mitra teknis.
Rencana pemanfaatannya tidak berhenti di area pabrik. Dalam jangka panjang, pohon cair ini diproyeksikan hadir di berbagai ruang publik di wilayah perkotaan.
Perluasan tersebut diarahkan untuk membantu revitalisasi kawasan hijau dan memperbaiki kualitas udara kota secara kolektif. Untuk mewujudkannya, program ini disebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pihak swasta, pemerintah, dan komunitas masyarakat luas.





