Perdebatan soal harga bensin di Amerika Serikat makin tajam ketika pemerintahan Trump dan kepala energi Gedung Putih memberi sinyal yang sangat berbeda. Di satu sisi, Trump menilai harga bisa turun lebih cepat, tetapi di sisi lain Energy Secretary Chris Wright justru membuka kemungkinan harga bensin baru kembali di bawah $3 per galon “later this year or perhaps next year.”
Sikap yang saling berlawanan itu muncul saat harga rata-rata nasional masih berada di $4.042 per galon. Angka tersebut memang sudah turun dari titik tertinggi terbaru, tetapi pasar energi belum benar-benar tenang karena gangguan pasokan global masih terasa kuat.
Harga bensin bergerak cepat saat pasokan tertekan
Perubahan harga dalam waktu singkat memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap situasi geopolitik. Dalam sekitar satu bulan, rata-rata nasional naik dari sekitar $2.95 per galon menjadi lebih dari $4 per galon, lompatan yang langsung membebani konsumen di pompa bensin.
Kenaikan itu juga membuat harga saat ini sekitar $0.89 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Karena itu, sedikit perubahan pada pasar minyak bisa cepat memengaruhi biaya yang dibayar pengendara setiap hari.
International Energy Agency atau IEA menilai perang yang sedang berlangsung telah memicu “most severe oil supply shock in history.” Lembaga itu juga melaporkan cadangan minyak global turun 85 juta barel pada Maret, sementara stok di luar Middle East Gulf menyusut 205 juta barel karena aliran melalui Selat Hormuz tersendat.
Selat Hormuz jadi penentu utama
Bagi IEA, pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz adalah faktor paling penting untuk meredakan tekanan. Lembaga itu menyebut, “resuming flows through the Strait of Hormuz remains the single most important variable in easing the pressure on energy supplies, prices and the global economy.”
Kondisi ini membuat konflik Iran menjadi pusat perhatian pasar energi. Selama jalur pengiriman itu belum kembali normal, ruang penurunan harga bensin tetap sempit dan risiko kenaikan masih terbuka.
Tekanan tersebut makin besar setelah Amerika Serikat disebut menyita sebuah kapal kargo Iran. Iran kemudian menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup, sehingga pasar menghadapi risiko pasokan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Gedung Putih memberi sinyal berbeda
Dalam wawancaranya dengan CNN, Chris Wright mengatakan harga bensin kemungkinan sudah mencapai titik tertinggi. Namun, ia juga menilai harga di bawah $3 per galon belum tentu muncul dalam waktu dekat, meskipun ia tetap membuka skenario penurunan “later this year or perhaps next year.”
Wright mengaitkan penurunan itu dengan berakhirnya perang di Iran. Menurutnya, jika situasi mereda, tekanan pada biaya energi bisa ikut turun dan harga bensin berpeluang lebih rendah.
Pernyataan itu tidak sejalan dengan pandangan Trump. Saat berbicara dengan The Hill, Trump menyebut Wright “totally wrong” ketika ditanya mengenai perkiraan bahwa harga bensin mungkin belum kembali ke level $3 per galon hingga 2027.
Perbedaan ini menunjukkan belum ada satu arah yang benar-benar solid di Gedung Putih. Di tengah harga yang bergerak cepat dan kondisi pasokan yang masih rapuh, publik tetap menunggu kepastian yang lebih jelas soal kapan bensin bisa benar-benar turun lagi.
Source: www.carscoops.com




