Kegiatan touring moge di Sumba kali ini tidak berhenti pada soal rute panjang dan tantangan perjalanan. GSrek Indonesia Jakarta Chapter justru menjadikannya sebagai ruang untuk membawa bantuan yang menyentuh kebutuhan paling dasar di sekolah-sekolah pedesaan, terutama air bersih dan listrik.
Dalam program bertajuk Homecoming Sumba 2026, rombongan menyasar sekolah yang masih berhadapan dengan keterbatasan infrastruktur. Fokusnya bukan sekadar mengantar bantuan, tetapi juga memperbaiki fasilitas yang langsung dipakai siswa setiap hari.
Bantuan tidak berhenti pada perlengkapan sekolah
Selama kegiatan berlangsung, GSrek Indonesia Jakarta Chapter mengunjungi SD Negeri Ndata, SLB Negeri Loura, dan SD Inpres Pantai Rua. Di tiga sekolah itu, bantuan yang diberikan mencakup perlengkapan pendidikan serta kebutuhan pokok untuk mendukung proses belajar mengajar.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa touring komunitas motor besar bisa diarahkan ke kerja sosial yang konkret. GSrek Indonesia memilih menempatkan pendidikan dan akses dasar sebagai titik utama kegiatan di lapangan.
Air bersih jadi perhatian utama
Salah satu bagian penting dari program ini adalah perbaikan fasilitas air bersih. Para peserta membantu menangani instalasi tandon, jaringan pipa, dan keran air yang dibutuhkan siswa di sekolah-sekolah yang dikunjungi.
Kebutuhan ini menjadi penting karena sejumlah wilayah di Sumba masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Ketersediaan air bersih berpengaruh langsung terhadap aktivitas belajar dan kondisi lingkungan sekolah.
Panel surya ikut dibawa untuk sekolah yang belum berlistrik memadai
Selain urusan air, GSrek Indonesia juga menyoroti kebutuhan listrik di sekolah. Dalam salah satu titik kunjungan, komunitas ini memasang panel surya untuk membantu proses belajar mengajar yang masih terkendala akses listrik.
Ketua GSrek Indonesia Jakarta Chapter, Hendra Saputra, mengatakan rombongan mendapat sambutan hangat dari para siswa di sekolah yang mereka datangi. Ia menjelaskan bahwa program tersebut menyalurkan bantuan instalasi air bersih, perlengkapan pendidikan, dan kebutuhan pokok.
Respons publik ikut meluas
Dampak kegiatan ini tidak berhenti di lokasi kunjungan. Setelah kondisi lapangan dibagikan melalui media sosial, perhatian publik terhadap kebutuhan sekolah-sekolah di Sumba ikut meningkat.
Menurut Hendra Saputra, respons positif dari masyarakat luas membantu membuka perhatian yang lebih besar terhadap situasi sekolah yang mereka datangi. Dukungan itu kemudian ikut mendorong penyaluran bantuan tambahan ke sekolah-sekolah yang sangat membutuhkan.
Touring dengan 81 peserta dan dukungan banyak pihak
Homecoming Sumba 2026 berlangsung pada 26 April hingga 2 Mei 2026 dan diikuti 81 peserta. Jumlah itu memberi ruang bagi pembagian peran yang lebih luas dalam penyaluran bantuan dan pekerjaan lapangan.
GSrek Indonesia menyebut kegiatan ini bisa terselenggara berkat dukungan berbagai pihak. Dengan kombinasi perjalanan adventure dan agenda sosial, touring tersebut berubah menjadi aksi nyata yang menyentuh kebutuhan dasar siswa di wilayah pedesaan Sumba.
Source: www.suara.com




