Tekanan Valas Mereda, BI Masih Melihat Rupiah Punya Ruang Kembali Ke Rp16.500

Tekanan pada rupiah belum dibaca Bank Indonesia sebagai pelemahan yang menetap. Otoritas moneter itu masih menilai kurs domestik berada di bawah nilai wajarnya, sehingga masih ada ruang bagi rupiah untuk bergerak mendekati level yang dianggap fundamental.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut nilai wajar rupiah berada di sekitar Rp16.500 per dolar AS. Menurut dia, posisi rupiah yang masih berada di atas Rp17.600 belum mencerminkan nilai sebenarnya, meski stabilitas pasar tetap terjaga.

Ruang penguatan masih dibuka BI

Perry mengatakan rupiah berpeluang bergerak di kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS. Pandangan itu ia sampaikan saat rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Ia juga menegaskan arah rupiah masih sejalan dengan asumsi makro APBN. Dengan kata lain, Bank Indonesia belum melihat kondisi saat ini sebagai penyimpangan yang jauh dari arah kebijakan ekonomi nasional.

Tekanan musiman mulai berkurang

Bank Indonesia melihat tekanan terhadap rupiah sempat meningkat pada April, Mei, dan Juni. Pada periode itu, permintaan dolar AS lebih tinggi dan ikut memberi beban tambahan bagi kurs domestik.

Setelah fase tersebut berlalu, BI memperkirakan ruang penguatan mulai terbuka pada Juli dan Agustus. Perry mengaitkannya dengan selesainya musim haji, repatriasi dividen korporasi, dan pembayaran utang luar negeri yang dapat mengubah arus permintaan valuta asing.

Nilai tukar dinilai masih stabil

Meski rata-rata rupiah sepanjang tahun berjalan berada di Rp16.900, Perry menilai kondisi pasar masih terkendali. BI mencatat deviasi rupiah saat ini berada di 5,4% dan masih dianggap stabil oleh otoritas moneter.

Perry menjelaskan bahwa stabilitas kurs tidak hanya dilihat dari level rupiah harian. BI memakai standar deviasi rolling 20 hari untuk menilai apakah pergerakan nilai tukar masih berada dalam rentang yang terjaga.

Fondasi domestik ikut diperhitungkan

Penilaian BI terhadap rupiah tidak berdiri pada kurs semata. Otoritas moneter juga mengaitkannya dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, termasuk data pertumbuhan Indonesia yang mencapai 5,61% secara tahunan pada kuartal I/2026.

Dari sudut pandang BI, data itu memperlihatkan bahwa fundamental ekonomi domestik masih mendukung. Karena itu, pelemahan rupiah yang terlihat saat ini belum dianggap mencerminkan nilai wajarnya.

Risiko eksternal masih membayangi

Di sisi lain, Perry mengakui tekanan global belum hilang. Ia mengingat kembali gejolak yang muncul ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor resiprokal pada Februari 2025, saat rupiah sempat tertekan sebelum kembali menguat.

Ia juga menyoroti meningkatnya risiko geopolitik akibat serangan AS-Israel ke Iran yang memicu gejolak di kawasan Teluk. Situasi itu mendorong kenaikan credit default swap atau CDS, yang menjadi indikator persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang suatu negara.

Perry menilai tekanan seperti itu tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga banyak negara lain. Karena itu, BI masih melihat peluang rupiah mendekati kisaran fundamentalnya selama tekanan musiman mereda dan gejolak eksternal tidak bertambah besar.

Source: finansial.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button