Pasar energi global kembali menoleh ke Beijing saat Donald Trump dan Xi Jinping bertemu untuk membahas tarif impor energi. Pembicaraan itu dinilai penting karena menyentuh arus minyak dan gas yang selama ini ikut menentukan arah perdagangan dunia.
Fokus terbesar ada pada kemungkinan China mencabut bea masuk untuk energi asal Amerika Serikat. Jika pintu itu dibuka lagi, aliran LNG dan minyak mentah dari AS ke China berpeluang pulih setelah sempat tersendat tajam.
Gangguan tersebut berawal dari langkah balasan Beijing terhadap tarif AS. Pada Februari tahun lalu, China mengenakan pungutan 15 persen untuk gas alam cair atau LNG dan 10 persen untuk minyak mentah, kebijakan yang praktis membuat impor kedua komoditas dari AS nyaris berhenti.
Dampaknya tidak berhenti di hubungan dua negara itu saja. China merupakan salah satu tujuan penting ekspor energi dunia, sehingga setiap perubahan kebijakan impor dari negara tersebut langsung terasa pada pasar yang lebih luas.
Situasi pasar juga sedang sensitif karena tekanan pasokan dari wilayah lain belum mereda. Penutupan Selat Hormuz mengganggu seperlima ekspor energi laut dunia dan mendorong harga naik, membuat pasar kembali mencari sumber pasokan alternatif.
Di saat yang sama, China juga menghadapi pengetatan suplai dari mitra lain. Impor negara itu terpaksa dipangkas tajam setelah pasokan dari Qatar turun hingga 30 persen pada tahun lalu.
Kondisi ini membuat energi Amerika Serikat kembali dipandang punya peluang. Bagi pengembang LNG di AS, China tetap dianggap pasar penting untuk jangka panjang karena proyek ekspor mereka membutuhkan pembeli yang bersedia meneken kontrak jangka panjang.
Kontrak semacam itu dibutuhkan untuk menopang proyek LNG yang dirancang berjalan selama beberapa dekade. Dari sisi China, stabilitas permintaan domestik juga menjadi alasan kuat untuk menjaga ruang kerja sama energi tetap terbuka.
Liu Jia, kepala ahli di Institut Riset Ekonomi & Teknologi, menilai China menawarkan pertumbuhan permintaan yang paling dapat diprediksi di dunia. Ia juga menyebut skala pasar China mampu menopang investasi infrastruktur energi di Amerika Serikat.
Namun, pasar belum berani terlalu jauh membaca hasil pertemuan Trump dan Xi. Pelaku pasar melihat ada ruang untuk kesepakatan yang bisa meredakan tekanan dagang sekaligus memperbaiki aliran energi, tetapi kepastian akhir belum terlihat.
Salah satu tanda kehati-hatian datang dari absennya eksekutif energi utama AS dalam kunjungan Trump. Kondisi itu membuat pembahasan bisnis langsung tampak belum sepenuhnya matang.
Sementara itu, pembeli China juga bergerak mengurangi risiko politik. Mereka memperluas sumber pasokan agar tidak terlalu bergantung pada satu negara, meski hingga kini China sudah mengamankan kontrak sekitar 28 juta ton LNG per tahun dari proyek-proyek Amerika Serikat.
Meski begitu, perusahaan-perusahaan di Beijing dilaporkan berhenti menandatangani kontrak baru sejak perang dagang berkobar tahun lalu. Langkah itu menunjukkan bahwa hubungan energi kedua negara masih dipenuhi pertimbangan politik.
Perubahan lain di pasar energi juga ikut menambah tekanan bagi produsen gas. Data BloombergNEF menunjukkan dominasi gas alam di sejumlah pasar mulai digeser oleh pembangkit listrik tenaga surya yang dilengkapi sistem penyimpanan energi.
Di jalur pelayaran yang rawan, sensitivitas pasar terlihat jelas dari pergerakan tanker. Sebuah tanker minyak raksasa milik China terpantau keluar dari Selat Hormuz menuju wilayah blokade AS sesaat sebelum pertemuan puncak berlangsung.