Perbaikan laba Bank Indonesia pada 2025 tidak hanya terlihat dari angka akhirnya, tetapi juga dari perubahan kuat di sisi pendapatan dan beban. Setelah pajak, BI membukukan surplus Rp76,79 triliun, melonjak 247,9% dibanding Rp22,19 triliun pada tahun sebelumnya.
Kenaikan itu terutama ditopang oleh pendapatan kebijakan moneter yang mencapai Rp102,59 triliun. Dari pos tersebut, keuntungan selisih kurs transaksi valuta asing menjadi sumber paling besar dengan nilai Rp83,40 triliun.
Mesin pendapatan dari kebijakan moneter
Di luar selisih kurs, BI mencatat pendapatan bunga Rp12,24 triliun. Bank sentral juga memperoleh pemasukan dari transaksi syariah sebesar Rp22,59 triliun dan transaksi aset keuangan Rp2,30 triliun.
Penerimaan BI tidak hanya datang dari kebijakan moneter. Pengelolaan sistem pembayaran menyumbang Rp4,24 triliun, sedangkan fungsi pengaturan dan pengawasan makroprudensial memberi tambahan Rp282,35 miliar.
Penghasilan naik, beban turun
Laporan keuangan menunjukkan total penghasilan BI naik menjadi Rp253,48 triliun dari Rp228,67 triliun. Pada saat yang sama, total beban turun menjadi Rp155,35 triliun dari Rp161,35 triliun pada 2024.
Kombinasi dua sisi itu mendorong surplus sebelum pajak naik menjadi Rp98,13 triliun dari Rp67,35 triliun. Setelah kewajiban pajak Rp21,94 triliun diperhitungkan, hasil akhirnya terkunci di Rp76,79 triliun.
Aset BI ikut menguat
Di neraca, total aset BI tercatat Rp4.597,60 triliun per 31 Desember 2025. Posisi itu lebih tinggi dibanding Rp4.420,57 triliun pada akhir 2024.
Aset keuangan untuk pelaksanaan kebijakan moneter menjadi penopang terbesar dengan nilai Rp4.141,64 triliun. Di dalamnya terdapat surat berharga dan tagihan dalam rupiah, surat berharga berbasis syariah, serta instrumen valuta asing yang digunakan untuk menjalankan tugas bank sentral.
Posisi emas BI juga meningkat tajam menjadi Rp198,35 triliun dari Rp106,55 triliun. Selain itu, hak tarik khusus atau Special Drawing Rights pada lembaga keuangan internasional tercatat Rp145,19 triliun.
Ekonomi domestik tetap memberi ruang
BI menilai perekonomian sepanjang 2025 masih terjaga meski ketidakpastian global tetap tinggi. Tekanan datang dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat dan tensi geopolitik internasional, namun ekonomi nasional tetap tumbuh.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,11%, lebih tinggi daripada realisasi 2024 yang sebesar 5,03%. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menjadi penopang utama laju pertumbuhan itu.
Inflasi juga masih berada dalam sasaran BI. Sepanjang 2025, inflasi Indeks Harga Konsumen tercatat 2,92% secara tahunan, dengan dukungan inflasi inti yang stabil dan koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah.
Rupiah, kredit, dan sistem pembayaran tetap solid
Nilai tukar rupiah relatif terjaga di tengah tekanan pasar keuangan global. Pada akhir Desember 2025, rupiah berada di level Rp16.675 per dolar AS, didukung intervensi BI di pasar spot dan instrumen derivatif serta pasokan devisa dari eksportir.
Dari sektor perbankan, kredit tumbuh 9,69% secara tahunan dan masih berada dalam kisaran target BI sebesar 8%-11%. Kredit investasi melonjak 21,06%, sementara kredit modal kerja tumbuh 4,52% dan kredit konsumsi naik 6,58%.
Likuiditas perbankan juga tetap memadai dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga atau AL/DPK di level 28,57%. Dana pihak ketiga tumbuh 13,83% secara tahunan, sementara kualitas aset perbankan terjaga dengan rasio kredit bermasalah 2,05% secara bruto dan 0,79% secara neto.
Modal perbankan pun masih kuat. Capital adequacy ratio berada di level 25,89%, sedangkan volume transaksi pembayaran digital mencapai 49,76 miliar transaksi atau tumbuh 35,72% secara tahunan, didorong penggunaan QRIS dan BI-FAST di masyarakat.
Atas laporan keuangan tersebut, Badan Pemeriksa Keuangan memberi opini wajar dalam semua hal yang material. BPK menilai laporan keuangan BI per 31 Desember 2025 telah menyajikan posisi keuangan dan surplus-defisit secara wajar sesuai Kebijakan Akuntansi Keuangan Bank Indonesia.
Source: finansial.bisnis.com