Perdagangan di Bursa Efek Indonesia kembali berada di bawah tekanan berat setelah rupiah sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS. Situasi itu membuat pelaku pasar bersikap lebih hati-hati, sementara ekuitas domestik ikut terseret hingga IHSG ditutup turun 2,16 persen ke level 7.378,61.
Pelemahan tersebut tidak datang sendirian. Di saat yang sama, harga minyak global juga naik setelah penutupan Selat Hormuz, sehingga menambah kekhawatiran terhadap sentimen eksternal yang sedang membebani aset berisiko.
Rupiah menjadi tekanan terbesar
Sorotan utama pasar tertuju pada rupiah yang akhirnya ditutup di Rp17.286 per dolar AS di pasar spot. Posisi itu disebut sebagai yang terburuk sepanjang sejarah dan sekaligus menjadi pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Bagi pelaku pasar, pelemahan mata uang biasanya langsung memunculkan kekhawatiran soal naiknya biaya impor, tekanan pada biaya produksi, dan potensi penurunan laba emiten. Kondisi tersebut cenderung membuat minat beli melemah karena investor memilih menahan langkah di tengah ketidakpastian nilai tukar.
Harga minyak ikut memperkeruh suasana
Selain rupiah, pasar juga menaruh perhatian pada dampak penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung. Gangguan jalur tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi dan memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi.
Tekanan dari energi mahal juga memunculkan risiko lain, termasuk potensi pelebaran defisit anggaran pemerintah. Bagi pasar saham, kenaikan harga minyak kerap dipandang sebagai sinyal bahwa risiko eksternal semakin besar dan bisa menekan emiten yang sensitif terhadap biaya operasional.
Tekanan jual menyebar ke hampir semua sektor
Riset Phintraco Sekuritas menunjukkan tekanan jual sudah terasa sejak awal perdagangan dan menyebar ke hampir seluruh sektor. Sektor consumer cyclicals menjadi yang paling lemah dengan penurunan 3,28 persen, sedangkan sektor transportasi menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau dan naik 2,42 persen.
Kondisi itu juga tercermin pada indeks-indeks utama yang ikut terkoreksi. LQ45 turun 2,73 persen, Kompas100 melemah 2,62 persen, dan IDX30 turun 2,03 persen, menandakan saham-saham berkapitalisasi besar pun tidak luput dari tekanan.
Sinyal teknikal masih menunjukkan kerentanan
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas menilai IHSG sudah menembus support 7.500 dengan dukungan volume transaksi. Indikator MACD memperlihatkan histogram positif yang makin menyempit dan berpotensi membentuk death cross, sementara Stochastic RSI bergerak turun mendekati area pivot.
Dalam risetnya, Phintraco menyebut IHSG masih berpeluang melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di area 7.308. Untuk perdagangan berikutnya, level resistance berada di 7.500, pivot di 7.400, dan support di 7.300.
Aktivitas transaksi tetap tinggi di tengah koreksi
Meski pasar ditutup merah, aktivitas perdagangan justru berlangsung sangat ramai. Total 52,07 juta saham berpindah tangan dengan nilai transaksi Rp20,46 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 3,05 juta kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 201 saham menguat, 531 saham melemah, dan 227 saham tidak bergerak. Komposisi itu menunjukkan tekanan jual lebih dominan dibandingkan minat beli, sehingga pelemahan pasar terasa merata di banyak lapisan saham.
Sejumlah saham masih sempat masuk jajaran top gainers, di antaranya KOBX, MAXI, SKBM, WBSA, PGLI, BAIK, ALII, dan MMIX. Sebaliknya, daftar top loser diisi oleh ESTA, FUTR, MYTX, DSSA, CSMI, ITMA, MSIN, dan DEPO, yang memperlihatkan sentimen negatif masih kuat membayangi bursa.
Source: www.suara.com




