Tekanan Global Dan Domestik Membuat IHSG Rentan, Level 6.400 Kian Mengintai

Bagi pelaku pasar, level 6.800 kini menjadi batas yang paling diperhatikan karena IHSG belum mampu kembali dan bertahan di atas area itu. Selama batas tersebut belum ditembus dengan meyakinkan, ruang gerak indeks masih rawan terhadap tekanan lanjutan.

Tekanan yang menahan IHSG bukan datang dari satu arah saja. Aksi jual bersih investor asing yang menembus lebih dari Rp 51 triliun sejak awal tahun, pelemahan rupiah ke atas Rp 17.600 per dollar AS, serta lonjakan risiko makroekonomi membuat sentimen pasar tetap rapuh.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelemahan yang terjadi mencerminkan gabungan masalah eksternal dan domestik. Ia melihat investor kini lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar modal Indonesia.

Dari sisi global, pasar masih dibayangi konflik Iran-AS, kenaikan harga minyak, penguatan dollar AS, dan naiknya yield obligasi AS tenor 10 tahun ke 4,6 persen. Kondisi tersebut mendorong perpindahan dana ke aset aman atau safe haven.

Tekanan domestik ikut memperberat

Di dalam negeri, pasar menghadapi penurunan kualitas likuiditas, aksi jual saham konglomerasi, dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi fiskal. Kombinasi ini membuat pelaku pasar memilih menahan diri dan mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Hendra menilai persoalan domestik tidak berdiri sendiri, melainkan memperdalam tekanan yang sudah lebih dulu datang dari faktor global. Akibatnya, investor semakin sulit menemukan alasan kuat untuk kembali agresif masuk ke pasar saham.

Kondisi itu juga membuat koreksi IHSG terasa berat. Pada Senin (18/5/2026), indeks ditutup di level 6.599,240 setelah turun 124,079 poin atau 1,85 persen.

Risiko koreksi ke 6.400 belum hilang

Secara teknikal, IHSG sebenarnya sudah masuk area jenuh jual atau oversold. Namun, sinyal pembalikan arah yang kuat belum terbentuk, sehingga pasar masih rentan terhadap volatilitas lanjutan.

Hendra masih membuka peluang rebound jangka pendek karena penurunan indeks sudah cukup dalam dan valuasi mulai murah. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kenaikan seperti itu berisiko berubah menjadi dead cat bounce jika tekanan utamanya belum mereda.

Dalam pandangannya, koreksi lanjutan menuju rentang 6.400 hingga 6.500 masih terbuka. Risiko tersebut tetap ada selama IHSG belum mampu kembali dan bertahan di atas area psikologis 6.800-6.900.

Peluang selektif masih tersisa

Di tengah tekanan luas, valuasi saham berkapitalisasi besar mulai berada di bawah rata-rata historis. Kondisi ini membuat sebagian saham big caps terlihat menarik bagi investor jangka panjang karena imbal hasil dividen dinilai bisa melampaui deposito maupun obligasi.

Namun, Hendra menegaskan bahwa investor tidak cukup hanya berburu saham yang sudah jatuh paling dalam. Fokus utama tetap pada emiten dengan fundamental kuat, cash flow sehat, dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan ekonomi global.

Beberapa sektor juga dinilai lebih tahan dibanding yang lain. Energi berbasis batu bara dan minyak masih mendapat dukungan dari lonjakan harga komoditas global.

Saham yang disebut relatif kuat antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Selain itu, sektor consumer defensive dan kesehatan juga dinilai lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi.

Sebaliknya, saham properti, bahan baku, konglomerasi, serta emiten dengan beban utang dollar AS yang besar diperkirakan masih menghadapi tekanan berat. Sektor-sektor itu sangat sensitif terhadap suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah, sehingga ruang pemulihannya cenderung lebih sempit dalam jangka pendek.

Pasar kini menunggu langkah pemerintah bersama OJK, BEI, dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memulihkan kepercayaan investor terhadap transparansi pasar modal. Tanpa perbaikan sentimen dan kepastian kebijakan, IHSG berpeluang tetap bergerak dalam tekanan tinggi.

Baca Juga

Back to top button