Di tengah perhatian terhadap performa Arema FC, sorotan kini tidak hanya tertuju pada hasil di lapangan, tetapi juga pada siapa saja yang masih layak dipertahankan. Nama Yan Mota ikut masuk dalam daftar pemain yang sedang diuji, sementara tim pelatih pun tidak berada di zona aman dalam evaluasi internal klub.
Situasi ini muncul karena Arema FC belum memenuhi target yang dipasang sejak awal musim di Super League 2025-2026. Posisi tim yang masih tertahan di papan tengah membuat manajemen menilai perlu ada perbaikan menyeluruh agar peluang mengejar lima besar tetap terbuka.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan bahwa penilaian dilakukan tanpa pengecualian. Menurut dia, seluruh elemen tim masuk dalam radar evaluasi, mulai dari hasil pertandingan, kontribusi pemain, hingga cara tim pelatih mengelola skuad dan menjaga stabilitas permainan.
Evaluasi itu sendiri ternyata sudah berjalan sejak November 2025. Karena itu, putaran kedua kompetisi dipandang sebagai momen penting untuk melihat sejauh mana pembenahan yang disiapkan benar-benar memberi dampak di lapangan.
Posisi tim pelatih ikut diperiksa
Bagi Arema FC, masalah yang muncul tidak hanya soal kurangnya poin. Manajemen juga menyoroti kemampuan tim pelatih dalam menyusun strategi dan menjaga konsistensi performa tim sepanjang musim.
Dengan posisi Arema FC berada di peringkat ke-10, tekanan terhadap seluruh struktur tim menjadi semakin besar. Kondisi tersebut membuat putaran kedua Super League bukan sekadar lanjutan kompetisi, tetapi juga ujian bagi arah kerja yang sudah dijalankan selama ini.
Yan Mota masuk daftar yang disorot
Di antara nama yang mendapat perhatian, Yan Mota menjadi salah satu yang paling disorot. Bek asal Brasil itu tidak masuk skuad Arema FC dalam tiga pertandingan terakhir, sehingga spekulasi soal masa depannya ikut menguat.
Sepanjang musim, pemain berusia 26 tahun itu baru membukukan enam penampilan bersama Singo Edan. Bagi pemain asing yang diharapkan memberi pengaruh besar di lini belakang, jumlah tersebut dianggap belum cukup memuaskan.
Catatan terakhir Yan Mota tercatat saat menghadapi Malut United pada akhir November 2025. Setelah laga itu, ia tidak lagi menjadi pilihan utama tim pelatih.
Sorotan terhadap dirinya juga bertambah karena ia sempat menerima kartu merah dalam salah satu pertandingan. Faktor disiplin tersebut ikut masuk dalam penilaian mengenai peluangnya untuk tetap bertahan di Malang.
Pergerakan transfer mulai terbaca
Saat evaluasi internal berjalan, kabar mengenai perburuan pemain baru juga ikut mengemuka. Arema FC disebut memantau sejumlah nama untuk menambah kualitas skuad, terutama di sektor yang masih dianggap membutuhkan dorongan.
Salah satu nama yang ramai dibicarakan adalah Gustavo Franca. Gelandang asal Brasil itu dikaitkan dengan Arema FC ketika masa depannya bersama Persija Jakarta mulai dipertanyakan.
Kebutuhan Arema FC akan pemain kreatif di lini tengah membuat nama Franca terasa relevan. Tim membutuhkan tambahan ide agar permainan lebih hidup dan lebih produktif pada fase berikutnya.
Pemain berusia 27 tahun itu sempat memberi kesan awal yang positif saat datang ke Indonesia. Ia mencatat satu assist pada debut dan langsung mencetak gol pada pertandingan berikutnya.
Namun, kontribusinya belum stabil sepanjang musim. Gustavo Franca tercatat tampil dalam 13 pertandingan dengan catatan satu gol dan dua assist.
Selain Arema FC, PSS Sleman juga dikabarkan tertarik kepada pemain yang memiliki nilai pasar sekitar Rp4,78 miliar tersebut. Jika Persija memutuskan melepasnya, persaingan untuk mendapatkan tanda tangannya diperkirakan akan terbuka lebih lebar.
Hingga kini, Arema FC belum mengumumkan secara resmi siapa saja pemain yang akan dilepas atau direkrut. Meski begitu, arah perombakan skuad sudah terlihat dari evaluasi menyeluruh yang terus berjalan dan kebutuhan klub untuk segera menemukan formula yang lebih kuat.





