Tatapan Mata Dan Suara Jadi Kunci, AS Uji Helm Pintar Untuk Kendalikan Drone Di Medan Tempur

Persaingan headset militer pintar di Amerika Serikat kini tidak lagi sekadar soal menampilkan peta atau data medan tempur. Anduril dan Meta sedang mengembangkan perangkat yang dirancang agar prajurit bisa mengarahkan drone, membaca situasi, dan mengambil keputusan lebih cepat hanya lewat tatapan mata serta suara.

Di balik gagasan itu, ada dorongan besar dari Angkatan Darat AS untuk menyambungkan tentara, sensor, dan sistem tempur tanpa memenuhi pandangan pengguna dengan informasi yang berantakan. Tantangannya jauh lebih keras daripada headset komersial karena perangkat harus tetap berguna di tengah debu, ledakan, asap, dan gangguan komunikasi.

Dua jalur pengembangan sekaligus

Anduril menempuh dua proyek utama dalam pengembangan ini. Jalur pertama adalah Soldier Born Mission Command atau SBMC, program yang pada 2025 mendapat kontrak prototipe senilai US$159 juta untuk membuat headset AR yang dipasang pada helm militer yang sudah ada.

Jalur kedua adalah EagleEye, proyek mandiri yang diumumkan pada Oktober 2025. Berbeda dari SBMC, EagleEye dirancang sebagai kombinasi helm dan headset tersendiri, meski belum diminta secara resmi oleh militer AS.

Anduril menilai militer AS pada akhirnya akan lebih tertarik pada EagleEye. Jika Angkatan Darat tidak memilihnya, perusahaan juga membuka peluang menjual sistem itu ke militer asing.

Cara kerja yang dibidik di lapangan

Headset ini disiapkan untuk menampilkan informasi penting langsung di bidang pandang prajurit. Isi tampilannya bisa sesederhana kompas, atau selengkap peta area perang, posisi drone terdekat, sampai pengenalan target berbasis AI seperti truk.

Dalam skenario yang digambarkan Anduril, prajurit dapat mengirim drone untuk mengintai area lalu memanggilnya kembali setelah mendeteksi sesuatu yang menyerupai unit artileri. Sistem kemudian dapat merekomendasikan langkah berikutnya, termasuk pengiriman drone serang, tetapi keputusan akhir tetap harus mengikuti rantai komando normal.

Barnett mengatakan sistem ini idealnya juga bisa bekerja tanpa suara. Komunikasi dapat diganti dengan pelacakan gerakan mata dan ketukan halus, sehingga prajurit tidak perlu selalu berbicara di tengah situasi tempur.

Peran AI dan perangkat lunak Anduril

Di sisi perangkat lunak, Anduril sedang menguji sistem bahasa besar dengan Gemini milik Google, Llama milik Meta, dan Claude milik Anthropic. Fungsinya adalah menerjemahkan ucapan prajurit menjadi perintah yang bisa dijalankan perangkat lunak.

Seluruh sistem itu bertumpu pada Lattice, perangkat lunak milik Anduril yang menggabungkan data dari berbagai perangkat keras militer menjadi satu gambaran operasi. Pada Maret 2025, Angkatan Darat AS mengumumkan rencana menghabiskan US$20 miliar untuk mengintegrasikan Lattice dengan hampir seluruh infrastrukturnya.

Anduril juga menguji sistem penglihatan malam digital untuk kedua prototipe tersebut. Teknologi itu memakai sensor elektronik dan algoritma untuk meningkatkan kondisi cahaya rendah, tetapi selama ini kerap dinilai terlalu lambat dan menghasilkan gambar buram.

Masih banyak hambatan teknis

Meski prototipe awal disebut berhasil, Barnett mengakui belum ada versi yang siap diuji Angkatan Darat AS dalam skala besar. Komponen-komponennya baru mulai berdatangan pada Maret 2026, dan rantai pasoknya harus dibangun agar tidak bergantung pada perusahaan China sesuai aturan kontrak militer federal.

Selain soal produksi, ada pula kekhawatiran bahwa perangkat semacam ini justru menambah beban mental prajurit. Mantan marinir AS Jonathan Wong mengingat pengalamannya saat memimpin peleton dengan radio di tiga saluran sekaligus, kondisi yang menurutnya cepat membuat orang kehilangan fokus terhadap lingkungan sekitar.

Wong menilai headset pintar memang bisa mengurangi kelebihan informasi, tetapi uji lapangan akan menentukan apakah teknologi ini benar-benar membantu atau justru mengganggu. Ia juga mengingatkan bahwa sistem yang bertugas mengidentifikasi ancaman dan merekomendasikan serangan membawa risiko kesalahan baru yang besar.

Persaingan ketat dan jejak Meta

Anduril bukan satu-satunya pemain di area ini. Rivet menerima kontrak prototipe senilai US$195 juta, sementara Elbit mendapat kontrak senilai US$120 juta pada Maret 2026.

Sebelumnya, Microsoft sempat memimpin upaya headset pintar Angkatan Darat AS. Peran itu berakhir setelah audit Pentagon menemukan bahwa kacamata tersebut tidak diuji dengan benar, lalu kontrak produksi senilai US$22 miliar yang sempat dijadwalkan dibatalkan karena masalah kelayakan.

Menariknya, sebagian besar perangkat keras untuk proyek Anduril justru dibuat oleh Meta, termasuk layar dan pandu gelombang yang mengarahkan visual ke mata pengguna tanpa menutup pandangan. Hubungan itu menandai bab baru setelah Facebook memecat pendiri Anduril, Palmer Luckey, pada 2017 akibat konflik internal yang berkaitan dengan dukungannya terhadap Donald Trump.

Taruhan besar ini diposisikan sebagai alat penting bagi militer AS dalam menghadapi lawan-lawannya, termasuk Iran, China, Korea Utara, dan Rusia. Namun, penggunaan skala besar di lapangan tetap bergantung pada satu syarat utama: sistem harus bekerja mulus di kondisi tempur yang keras, sementara bobot perlengkapan, daya komputasi, dan masa pakai baterai masih menjadi kendala utama.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button